Suasana peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke 64 terusik oleh isu pengklaiman Tari Pendet oleh Malaysia. Tari Pendet muncul dalam iklan promosi pariwisata Malaysia, yang ditayangkan oleh stasiun televisi internasional Discovery Channel. Menurut pihak pemerintah Malaysia, materi iklan tersebut merupakan tanggung jawab Discovery Channel, dan bukan disengaja oleh pemerintah Malaysia. Walaupun demikian, Malaysia secara resmi mengucapkan permohonan maafnya kepada bangsa Indonesia. Tentu saja ini bukan pertama kali pengklaiman hasil karya budaya bangsa Indonesia oleh Malaysia. Kesenian reog ponorogo, batik, dan angklung adalah beberapa sedikit contohnya. Bahkan, belum lama ini pemerintah Malaysia –melalui situsnya yang beralamat di http://www.warisan.gov.my- mengklaim bahwa gamelan dan wayang kulit adalah warisan budaya bangsa Malaysia. Demikian pula dengan rendang, ketupat, laksa, dan cendol yang diakui sebagai warisan makanan bangsa Malaysia.
Masih teringat dalam ingatan saya, beberapa tahun lalu, ketika isu pengklaiman lagu Rasa Sayange oleh Malaysia sangat ramai diberitakan dan diperbincangkan oleh banyak orang. Kala itu, Malaysia menggunakan lagu Rasa Sayange sebagai theme song iklan Visit Malaysia. Tak pelak, hal tersebut memancing kemarahan bangsa Indonesia. Berbagai protes muncul menentang klaim yang dilakukan oleh Malaysia tersebut. Selain itu, lagu Rasa Sayange tiba-tiba menjadi lagu favorit para penyanyi Indonesia yang tampil di televisi. Di berbagai acara, mereka menyanyikan lagu Rasa Sayange dengan berbagai macam variasi. Tak lupa, mereka juga mengingatkan pemirsa agar mengenali dan mencintai lagu tersebut. Kasus Rasa Sayange tersebut memang pada akhirnya turut memberikan pelajaran bagi bangsa Indonesia sendiri agar lebih menjaga, melestarikan, serta mencintai budaya bangsanya.
Namun pada kenyataannya, lagu Rasa Sayange yang bertransformasi menjadi Rasa Sayang Hey itu sangat kental dalam kehidupan sehari-hari rakyat Malaysia. Setidaknya itulah pengakuan warga Malaysia saat itu. Rasa Sayang Hey adalah lagu yang sering dinyanyikan oleh anak-anak kecil hingga orang dewasa di sana sejak dahulu. Lagu ini juga dinyanyikan oleh para pengamen di jalan, hingga penyanyi di kafe-kafe.
Kemudian, pertanyaan yang timbul adalah, adakah gema Rasa Sayange di negeri ini? Sebelum adanya ribut-ribut lagu Rasa Sayange yang diklaim Malaysia, sepertinya hampir seluruh rakyat negeri ini tidak ada yang ingat mengenai lagu itu, tidak mempedulikannya, terlebih menyanyikannya. Barulah saat Rasa Sayange diklaim oleh negeri tetangga, para mahasiswa, pegawai kantor, penjaga toko, hingga pejabat kelas atas mempunyai rasa kepemilikan atas Rasa Sayange. Orang-orang ramai memperbincangkan lagu itu dan para penyanyi menyanyikannya saat tampil di televisi.
Sabtu, 10 November 2007. Saat itu saya menjadi MC acara bakti sosial di sebuah SD negeri di Kota Depok. Tentunya pada saat itu saya berinteraksi dengan para siswa, yang sebagian besar adalah siswa kelas 3. Di satu kesempatan, saya memandu sebuah kuis dengan mengajukan pertanyaan kepada mereka. “Ada yang tau nggak, lagu Rasa Sayange dari daerah mana?” Tanya saya. Tidak sesuai perkiraan saya, seisi kelas hening. Tidak ada satupun siswa yang bisa menjawabnya walau saya sudah mengulang pertanyaannya berkali-kali. Akhirnya saya memberitahu jawaban yang sebenarnya.
“Lagu Rasa Sayange itu dari Maluku”
Kemudian saya melanjutkan, “Jadi kalau ada yang bilang lagu Rasa Sayange itu dari Malaysia, berarti itu boooo.....”
“ooong...!” sambung para siswa.
“Terus ada yang bisa nyanyiin lagunya nggak, hayoo dapet hadiah lhoo...,” ucap saya memancing mereka agar berani tampil ke depan.
Namun kelas kembali diam. Tidak ada satu pun siswa yang menyambar pancingan saya. Ada dua kemungkinan: tidak ada yang berani bernyanyi di depan kelas, atau tidak ada yang tahu lagu Rasa Sayange. Kabar buruknya, ternyata kemungkinan kedua lah yang sedang terjadi. Tidak ada satupun dari mereka yang tau atau sekedar pernah mendengar lagu Rasa Sayange.
Kemudian saya kembali mengajukan sebuah pertanyaan, “kelau lagu Kekasih Gelapku tau nggak?”
“Tauuuu...! Ungu kak Unguuuuu...!”
Saya hanya tertawa kecil, miris. Bagi saya, tidak masalah mereka mengenal dekat lagu milik Ungu yang memang saat itu selalu diputar stasiun televisi dan dinyanyikan banyak orang. Namun, hal yang menyedihkan ialah mereka jauh lebih mengenal lagu-lagu populer orang dewasa ketimbang lagu daerah dari Bangsa ini. Terlebih, saat itu Rasa Sayange sedang menjadi pembahasan orang banyak. Itu adalah kejadian yang saya alami di sebuah SD negeri yang letaknya tak jauh dari ibukota negara. Jika mereka saja tak mengenal Rasa Sayange, saya tak bisa membayangkan bagaimana dengan anak-anak yang berada di daerah-daerah terpencil di negeri ini.
Kejadian yang baru saja saya alami tersebut semakin menyadarkan saya mengapa negara tetangga kita berani mengklaim lagu rakyat yang selama ini diyakini berasal dari Indonesia sebagai milik mereka. Jika pun Rasa Sayange adalah makhluk yang bernyawa dan diberikan kebebasan memilih untuk menentukan lebih ingin ‘tinggal’ di Malaysia atau di Indonesia, sepertinya saya sudah tau jawabannya. Adakah kemegahan Rasa Sayange di negeri kita?
Dua tahun telah berlalu. Pada tanggal 17 Agustus 2009 lalu, saya bertemu dengan seorang anak berpakaian seragam SD di sebuah angkutan kota. Iseng-iseng, saya memulai perbincangan dengan anak lelaki yang ingin mengikuti upacara bendera di sekolahnya itu. Setelah bertanya beberapa hal mengenai sekolahnya, saya pun bertanya tentang Rasa Sayange. “Tau lagu Rasa Sayange, nggak?” Tanya saya. “Enggak kak, emangnya kenapa?” jawabnya. “Hehe... gak apa-apa,” jawab saya sambil tersenyum.
Ya, dua tahun telah berlalu. Namun sepertinya belum ada peningkatan mengenai ‘eksistensi’ Rasa Sayange di mata siswa SD, generasi muda pewaris bangsa ini. Memang ini bukan berarti membuktikan bahwa rakyat negeri ini tidak mencintai negaranya. Namun, bagaimana mau menjaga harta bangsa ini kalau para pewarisnya saja tak sayang? Dan bagaimana mau menyayanginya kalau tak mengenalinya? Saat ini, saya pun hanya bisa terdiam. Berusaha menikmati video wayang kulit yang dari tadi (masih) membuat saya mengantuk.


Weitsss, itu bagian akhirnya...
"Saat ini, saya pun hanya bisa terdiam. Berusaha menikmati video wayang kulit yang dari tadi (masih) membuat saya mengantuk."
NGENA BANGET!
Ricky
-FEUI07
GREAT article!
iya, anak jaman sekarang banyak yang gak diajarin kali ya lagu2 daerah.
apalagi di sekolah internasional gitu..
great job my partner! haha
hmmm.. menurut saya memang agak sulit mengubah doktrin org2 ttg kebudayaan kita yg sering dibilang membosankan. sehingga membuat generasi baru menjadi ennggan utk mempelajarinya. bahkan kurangnya ikut campur kita dalam melestarikan budaya bangsa membuatnya semakin dilupakan. mungkin kita berpikir, lalu solusinya?? apa kita tidak sekalian saja mengubah rasa sayange menjadi laga reggae, atau pertunjukkan wayang yg diselingi dangdut rock en roll?? saya tdk tahu kelanjutan dari ide saya yg satu itu.. tapi setelah membaca tulisan ini membuat saya sadar akan perlunya kita menjaga kelestarian budaya kita... kalu bukan kita, siapa lagi?? right??
hana p, FHUI 09
hmm.. emang rada miris fa. jangankan lagu rasa sayange, jaman adek gue masih SD aja dia g apal lagi anak2, tapi lagu2 dewasa apal. ckckckck. semoga menang ya fa :)
apaan sih nih... ga ngerti...
hehehe..
kiddink..
emang tuh.. tau ga kisah "the lost world" yg di papua nugini..??
oky jodie
wah sangat disayangkan generasi muda sekarang yang kurang mencintai budayanya sendiri ,mengakibatkan budaya kita diklaim oleh negara lain.
jadi jangan salahkan malaysia jika ia mengklaim klaim salahkan lah dulu kita.yang tidak mau peduli dengan budaya sendiri malah bangga dengan budaya lain...
gw suka banget sama nih artikel. mau tau gimana caranya biar lagu2 daerah diingat sama seluruh rakyat indonesia? GAMPANG!!
menurut gw pemerintah melalui menpora atau menteri kebudayaan bikin aja project 20 artis buat nyanyiin lagu daerah.
suruh aja si SAYKOJI nyanyi lagu yamko rambe yamko, UNGU suruh nyanyi angin mamiri, DEWA 19 apa, dan yang lain apaaa gt.
pasti lama2 pada apal.
setiandaputra
ahahahah..itulah bangsa kita bung, sangat menyebalkan..senengnya sering membesar-besarkan suatu masalah tanpa pernah mengerti apa substansinya..haaaahhhh..
odry, FISIP UI 09
iya yah, sekarang si rasa sayange juga mulai berkurang. udah kurang diinget lagi., btw, nice post.
Marah boleh sama negara malaysia.. tapi setidaknya kita introspeksi diri dulu lah...sampai mana kita dapat menghargai seni dan kebudayaan negara kita sendiri indonesia.. ok _^ ...
menurut saya, penting bagi para elit bangsa untuk memikirkan pentingnya menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui kebudayaan sehingga budaya yang sudah ada saat ini bisa terus terwariskan, tidak terkikis oleh globalisasi. hal ini sekaligus juga akan menanamkan rasa cinta pada tanah air, sehingga nasionalisme kita tidak hanya datang ketika ada event olahraga atau ketika bangsa kita diinjak harga dirinya.
izul
rifa! hehe gw lg iseng2 buka blog lo nih, trs jd penegn berbagi cerita juga deh..hehe
btw, waktu bulan juli gw lg jalan2, gw sempet mampir ke penang malaysia, nah saat malam harinya lg ada semacam festival. Dan lo tau apa? sepanjang festival itu, mereka terus-menerus berulang-ulang memutar lagu rasa sayange. tapi sayangnya gw ga denger satupun dari orang yang ada di festiva itu ikut menyanyikannya. Gw dan tmn2 gw yg lainnya dgn berbangga hati dan tanpa rasa malu ikut nyanyiin saat disana. Untuk membuktikan bahwa orang Indonesia lebih tau lagu itu ! Tapi mereka yg disana tau ga ya kalau gw orang Indonesia (itu pertanyaan gw saat ini), hehehe...
Kayaknya sih pemerintah sana memang berusaha keras supaya lagu itu dikenal oleh masyarakatnya...