Welcome!

Posted by Rifa Mulyawan On July - 12 - 2009

Selamat datang di rifamulyawan online! Suatu berkah dan kehormatan bagi saya atas kunjungan Anda di weblog ini. Selamat melihat-lihat, membaca, dan berkomentar! (berharap)

Tentang Rifa

Posted by Rifa Mulyawan On July - 12 - 2009

Weblog ini tidaklah hadir dengan sendirinya (ya iyalah). Ia hadir, dikutak-katik, dan di-update oleh pemiliknya, Rifa Mulyawan -dengan tujuan mempromosikan diri, eh, belajar menulis dan sekedar berbagi. Lantas siapakah itu Rifa Mulyawan sebenarnya? Baca selengkapnya di halaman ini.

FAQ

Posted by Rifa Mulyawan On July - 12 - 2009

Mengapa Rifa membuat Blog? Apakah weblog ini berisi hal yang penting untuk dibaca? Apakah alasan yang menjadikan Rifa membuat weblog ini dengan menggunakan blogspot? Apakah Rifa yakin hubungan antara Yuni Shara dan Raffi Ahmad adalah sepasang kekasih? Apakah yang akan terjadi bila sumber air so dekat? Temukan jawabannya di halaman ini.

Jasa dan Layanan

Posted by Rifa Mulyawan On July - 12 - 2009

Ada yang bisa saya bantu? Rifa menawarkan berbagai bantuan yang mungkin Anda butuhkan: Strategic and Political Consulting for Student Board Chairman Election, graphic design, MC, dan web development.

29 Mei 2011

Menjadi Kaya dengan Amplop Ajaib


Review Buku
Judul : MBA Manajemen By Amplop: Mau Kaya Kok Bingung?
Penulis : Aidil Akbar
Penerbit : Rabka Publisher
Tebal : 105 + x halaman
Cetakan kedua, April 2009




Sepulang sekolah, Nobita berlari sambil menangis menuju rumah, membuka pintu kamar, dan kemudian menemui Doraemon, lantas merengek di hadapannya. Seperti biasa, ia meminta agar Doraemon mengeluarkan alat ajaib yang dapat memenuhi keinginan Nobita saat itu. Anda tentu sudah hapal dengan penggalan cerita di kartun Doraemon ini. Nobita yang selalu tertindas kerap meminta apapun dari Doraemon agar ia bisa mewujudkan impian sesaatnya kala itu. Namun, seringkali Doraemon pun tidak mengeluarkan alat yang langsung secara instan dapat mengabulkan permintaan Nobita, melainkan dibutuhkan usaha-usaha dari Nobita sendiri, sehingga alat yang dikeluarkan oleh Doraemon pun hanya berfungsi sebagai pembantu saja, yang tak jarang justru tidak berfungsi apa-apa ketika Nobita melanggar aturan atau tidak disiplin dalam menggunakan alat ajaib tersebut.

Aidil Akbar, seorang wealth planner yang menjadi ketua IARFC (International Association of Registered Financial Consulting)-Indonesia, melakukan hal yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh Doraemon: mengeluarkan sebuah alat ajaib yang dapat membuat orang-orang mewujudkan impiannya. Aidil Akbar memang tidak mempunyai kantong ajaib layaknya Doraemon, tidak pula mengeluarkan alat yang serba instan dan langsung dapat memenuhi keinginan orang banyak, namun ia mengajarkan pada kita semua bahwa untuk menjadi kaya bisa dibantu oleh sebuah alat sederhana: amplop.

Amplop ajaib? Bukan, nama sebenarnya bukan amplop ajaib, tetapi MBA, alias Manajemen By Amplop. Manajemen By Amplop adalah metode yang dicetuskan oleh Aidil Akbar dalam bukunya yang berjudul MBA Manajemen By Amplop: Mau Kaya Kok Bingung?. Metode ini cukup sederhana. Pada intinya, kita harus melakukan penempatan uang kita pada pos-pos tertentu dalam amplop-amplop yang berbeda. Jika membeli MBA Manajemen By Amplop: Mau Kaya Kok Bingung karya Aidil Akbar ini, kita akan mendapatkan bonus sepaket amplop MBA, yang terdiri dari tiga buah amplop yang memiliki warna berbeda dan terdapat sekat-sekat di dalamnya, yang juga berbeda-beda tulisannya. Nah, sederhananya, ketiga amplop tersebut adalah tempat kita menyimpan uang berdasarkan fungsi atau kebutuhan sesuai tujuannya.



Amplop pertama ialah amplop berwarna merah yang digunakan sabagai amplop untuk menyimpan dana khusus guna investasi. Dalam amplop ini terdiri dari lima sekat: sekat untuk Investasi Dana Pendidikan Anak, Investasi Dana Pensiun, Investasi Dana Pembelian Aset, serta dua sekat Investasi untuk keperluan lain-lain. Tentunya bukan berarti kita harus menyimpan dana investasi kita di amplop ini, karena kalau demikian jadinya bukan berinvestasi, tetapi hanya menyimpan. Yang perlu kita lakukan adalah menyimpan dana dari penghasilan yang kita terima di amplop merah ini sementara sebelum kita menyetorkannya pada manajer investasi. Amplop kedua, ialah amplop berwarna kuning yang ditujukan untuk pos pengeluaran tahunan. Di dalam amplop ini terdapa 5 sekat: Tabungan Dana Darurat, Tabungan Premi Asuransi, Tabungan Pajak Bumi dan Bangunan, Tabungan Pembayaran STNK, serta Tabungan untuk keperluan lain-lain. Terakhir, amplop ketiga, ialah amplop berwarna hijau yang berfungsi sebagai penyimpan dana untuk alokasi pengeluaran bulanan, yang di dalamnya terdiri dari 5 sekat: pengeluaran makan-minum harian, pengeluaran rumah, pengeluaran transportasi, pengeluaran entertainment, serta pengeluaran untuk kepeluan lain-lain.

Di dalam buku MBA Manajemen By Amplop: Mau Kaya Kok Bingung? ini, Aidil menjelaskan mengenai cara-cara pemanfaatan ketiga amplop tersebut serta aturan-aturan dalam menggunakannya. Salah satu poin penting dalam menggunakan amplop ini ialah setelah kita menerima penghasilan, kita harus terlebih dahulu memasukkan sebagian dana tersebut ke amplop merah (investasi), kemudian sebagian lagi di amplop kuning (pengeluaran tahunan/tabungan), dan terakhir sisanya baru dimasukkan ke dalam amplop hijau (pengeluaran bulanan). Sekali lagi, ini hanyalah sebuah alat, metode yang dapat membantu kita merencanakan keuangan dan mewujudkan keinginan, namun bukan berarti dapat membuat kita akan dengan mudah secara instan menjadi kaya. Tanpa kedisiplinan dalam menggunakan alat ini, tentunya amplop ini hanya akan menjadi amplop biasa saja.




Di dalam buku MBA Manajemen By Amplop: Mau Kaya Kok Bingung? ini Aidil tidak hanya menjelaskan tentang metode Manajemen By Amplop, namun juga mencoba memberikan pencerahan kepada para pembacanya mengenai perencanaan keuangan dan pengelolaan kekayaan secara umum, perencanaan hutang, alur dana dan asset, proteksi, perencanaan keuangan untuk dana pendidikan anak, perencanaan dana pensiun, serta mengenai profil resiko dan resiko investasi . Dalam tiap bab terdapat satu sampai empat surat pembaca mengenai permasalahan keuangan yang pernah dimuat di berbagai media, yang kasusnya tak jarang juga dialami oleh orang banyak. Namun, menurut saya penempatan surat pembaca di tiap akhir tulisan yang tidak berhubungan dengan tulisan itu sendiri membuat saya bingung membacanya. Sepertinya akan lebih enak dibaca jika surat pembaca yang dilampirkan di tiap akhir tulisan memiliki kesinambungan dengan apa yang baru saja dibahas.

Saat membaca buku ini, saya juga sebenarnya merasa terganggu dengan layout di dalam buku. Margin yang terlalu sempit, spasi yang terlalu rapat, serta font yang kurang besar membuat saya seperti melihat buku teks kuliah versi kecil-tipis, yang mengakibatkan saya kurang merasa nyaman saat membacanya. Tentunya kelemahan yang ada pada tata letak tulisan dalam buku ini bukan berarti menjadi penghalang bagi saya untuk melahap halaman demi halaman di dalamnya. Isi yang sangat bermanfaat (dan seketika membuat saya ingin merencanakan keuangan) membuat saya terus ingin menelanjangi lembar per lembarnya. Terlebih, tak jarang dalam tulisannya ini sang penulis mengeluarkan kata-kata, kalimat serta celetukan gurauan kocak yang cukup membuat tersenyum, walau terkadang membuat saya berekpresi seperti ini -____-“.

Masih ingat cerita tentang Doraemon di awal tadi? Nah, jika sewaktu-waktu Nobita merengek kepada Doraemon dan meminta alat untuk kaya, apa kira-kira alat itu? Mungkin Doraemon bingung apa yang harus ia keluarkan dari kantong ajaibnya. Mungkin juga ia bisa saja mengeluarkan suatu alat instan yang seketika dapat membuat Nobita kaya mendadak. Sayangnya, itu hanya ada di dalam cerita. Untuk kita, yang ada dalam dunia nyata ini, kita tak perlu iri pada Nobita. Ada seorang Aidil Akbar yang telah berbagi alat ajaibnya untuk membantu kita menuju kaya: Manajemen By Amplop, atau kalau boleh diversikan Doraemonnya, mungkin menjadi Amplop Ajaib. Jadi, mau kaya kok bingung?

Kicauan Kacau Seorang Penulis Galau

Review Buku
Judul : Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau
Penulis : Indra Herlambang
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 332 + xv halaman
Cetakan kedua, Maret 2011





Ngena banget” inilah komentar salah seorang teman saya melalui tweet-nya saat membaca buku karya Indra Herlambang ini. Mungkin sebagian dari follower yang kebetulan membaca tweet-nya tersebut lantas bertanya: memangnya buku apa ini? Apanya yang ngena? Se-ngena itu kah?

Saya pribadi setuju dengan pendapat teman saya tersebut. Tulisan-tulisan dalam buku Kicau Kacau memang banyak yang nendang. Loh, memangnya Kicau Kacau bercerita tentang apa? Bukankah itu buku diary biasa yang kini sudah umum? Buku simple-simple aja kan?

Memang buku simple sih, sederhana. Sesederhana judulnya, Kicau Kacau. Namun, bukan berarti yang simple-simple itu tak berisi kan? Walau hanya membahas hal-hal kecil, tetapi bagi saya, setelah membacanya, Kicau Kacau telah mengajarkan saya berbagai hal mulai dari pengembangan diri hingga sarana merefleksi diri.

Seserius itu?


Tidak, sekali lagi, ini bukan buku yang serius, tapi berisi.

Salah satu tulisan yang ada di buku ini berjudul Inter(t)aksi. Dalam tulisan tersebut, Indra membahas tipe-tipe supir taksi yang ia klasifikasikan sendiri berdasarkan pengalamannya menumpang taksi serta berinteraksi dengan para pengemudinya. Oke, sepenting itukah hingga tipe-tipe supir taksi saja perlu dibahas? Jangan sinis dulu, mari dibaca dulu tulisannya.

Singkatnya, di tulisan Inter(t)aksi ini Indra membagi supir taksi menjadi beberapa golongan, di antaranya Supir Curhat. “Dari menutup pintu setelah duduk sampai membukanya untuk turun, Anda akan mengetahui semua masalah yang terjadi pada kehidupannya. Kegalakan istrinya, kebandelan anaknya, dan semua hal lain tentang kehidupan yang tidak sediki pun luput dalam kehidupannya," demikian kutipan penjelasan Indra mengenai Supir Curhat.

Membaca kategori yang pertama ini, saya spontan teringat dengan salah satu kejadian yang belum lama ini saya alami di dalam taksi. Baru saja naik, tiba-tiba sang supir bercerita mengenai dirinya yang baru saja ditilang karena menaikkan penumpang di Bandara, padahal armada taksinya tak memiliki otoritas untuk itu. Sang supir taksi tersebut kemudian mengatakan bahwa dampaknya adalah uang komisinya akan dipotong secara bertahap untuk mengganti biaya tilang, dan kemudian berdampak pada keuangan keluarganya, yang bisa saja menimbulkan ketidakharmonisan keluarga. Terlebih, ia baru saja berantem dengan istrinya. Curhatan supir taksi itu terhenti ketika saya harus mengangkat telepon yang ternyata dari telemarketer perusahaan asuransi, dan berpura-pura menyimak apa yang diutarakan sang penelepon, walau hal ini juga menyebalkan. Mengaitkan dengan apa yang baru dibahas oleh Indra, ini adalah salah satu contoh saja saya merasa setuju dengan yang ia sampaikan serta merasakan persis seperti yang ia tulis.

Selain Supir Curhat, Indra juga menggolongkan supir taksi ke dalam kategori Supir Pengamat Politik, Sopir Komedian, Supir Penggerutu, Supir DJ, hingga Supir Magician. Masing-masing digambarkan indra memiliki karakterisitik sendiri yang mungkin sudah tidak asing bagi kita, dan tepat seperti yang dideskripsikan oleh Indra.

Yang juga sangat menarik, di akhir tulisannya itu Indra menulis seperti ini, “Yang pasti saya curiga, jangan-jangan di antara para supir taksi, mereka pun punya penggolongan atas macam-macam penumpang yang dihadi setiap hari. Penumpang pendiam, penumpang cerewet, penumpang, pelit, penumpang galak.”

Dan taukah Anda, saya pernah menaiki taksi yang supirnya pernah bercerita kalau ia dan teman-temannya memang menggolongkan para penumpangnya menjadi berbagai macam kategori seperti yang telah diungkapkan oleh Indra. Jika memang ternyata supir taksi tersebut menggolong-golongkan kita sebagai penumpangnya, pertanyaan yang menjadi kalimat penutup Inter(t)aksi ini begitu menarik,

“Lalu pertanyaan berikutnya, penumpang tipe apakah Anda ini?”

Pertanyaan singkat, namun cukup membuat saya sedikit berpikir & merefleksikan diri. Seperti apakah saya di mata orang lain, dan apakah orang-orang menggolongkan saya ke kategori yang sifatnya positif, atau sebaliknya?

Ending tulisan yang ngena’ itu tidak hanya terdapat di satu tulisan saja loh, hampir di setiap tulisannya dalam buku ini ditutup dengan kalimat menarik yang mengandung pesan dan memang bisa membuat saya berpikir sejenak sebelum meneruskan membaca ke tulisan berikutnya. Buku ini semakin berisi karena diisi oleh diksi-diksi yang benar-benar membuat saya tahu kalau sang penulisnya adalah seorang yang cerdas dan juga seorang penikmat karya sastra.

Setap tulisan dalam Kicau Kacau sepertinya memang bukan tulisan yang terlalu penting, terutama kalau Anda melihat dari judul-judulnya. Tetapi sekali lagi, buku yang jauh dari kesan serius ini bias membuat saya sejenak merenung, tertawa kecil, tersenyum miris, hingga terbahak dalam seketika. Simple, tapi ngena banget.

30 April 2011

What is Dad?

Apa yang sudah kita lakukan untuk ayah kita?
Coba deh simak film pendek asal Yunani yang berjudul What is That? ini. Waktu pertama kali menontonnya, saya menangis.




Yakali


Ya, kalau saja saya punya badan yang lebih tinggi. Haha..

Untuk Kita yang Tidak Takut Miskin

Review Buku
Judul : Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin
Penulis : Ligwina Hananto
Penerbit : Literati & QM Publishing
Tebal : 240 + xii halaman
Cetakan pertama, 2010





Pernah pesimis dengan Indonesia? Kalau Anda pernah berkata, “Gila kali…” “Kapan yaaaa…?” atau sekedar “Hahaha...” ketika seseorang bertanya apakah Indonesia bisa membuat hal yang lebih spektakuler dari yang pernah dilakukan Negara maju, artinya Anda pernah pesimis dengan negara ini. Bukan Cuma Anda kok. Saya dan (mungkin) ratusan juta orang Indonesia lainnya juga setidaknya pernah merasa Indonesia jauh dari bayangan akan menjadi negara kaya raya tanpa hutang, yang para pemimpinnya menjadi tuntunan, yang jauh dari permasalahan lingkungan, yang teknologinya bisa menguasai pasar dunia, yang para atlet serta musisinya menjadi yang terbaik diseluruh dunia, dan tentunya rakyatnya hidup makmur dan selalu bahagia.

Belajar ilmu politik di kampus pernah membuat saya semakin bingung dengan permasalahan negara ini. Semakin dipikirkan, semakin tahu berbagai macam permasalahannya, dan semakin bingung apa yang sebenarnya perlu dibenahi terlebih dahulu, semakin yakin negeri ini tidak bisa diperbaiki lagi dan semakin tidak mau memikirkan negeri ini. Kesimpulannya, semakin saya suka memikirkan masalah negara, maka saya semakin tidak mau memikirkannya.

Hal tersebut menjadi salah satu hal yang membuat saya setelah lulus kuliah tidak ada niatan untuk berkecimpung di dunia politik, selain memang karena nilai saya jelek dan tak layak sepertinya untuk berada di dunia politik. Politik memang berkaitan erat dengan kenegaraan, berbagai macam permasalahan di negara ini toh bersumber dari politik. Ujung-ujungnya politik, begitu kata orang (orang mana?). Ya setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran saya dulu. Sampai pada waktunya, saya menyadari bahwa ternyata tidak melulu harus berkecimpung di poltik (atau lingkarannya) untuk mengubah negeri ini.

Ligwina Hananto, seorang perencana keuangan independen yang turut menyadarkan saya dan dengan jelas serta berani dalam bukunya -yang berjudul Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin- mengungkapkan bahwa negeri ini bisa kuat kalau golongan menengahnya itu kuat. Memangnya siapa itu golongan menengah? Dan sehebat apa mereka sehingga bisa-bisanya dikatakan bisa menjadikan negara ini kuat? Itu pertanyaan yang terlintas di benak saya saat membaca pernyatan Ligwina gersebut.

Sederhananya, Ligwina mengutarakan bahwa golongan menengah adalah golongan yang berdaya, yang memiliki mata pencaharian dan mampu makan tiga kali sehari. Namun golongan ini belum tentu punya uang, yang jelas mereka tidak melarat. Intinya, dibilang kaya raya yang punya uang puluhan miliar bukan, dibilang tidak mampu juga tidak pas, ya ditengah-tengah lah pokoknya. Merasa seperti itu? Kalau ya, selamat! Kita berada di golongan yang sama, golongan yang menurut Ligwina memiliki peran penting untuk memperkuat bangsa ini. Mengapa golongan menengah? Ada banyak alasan yang diungkapkan Ligwina mengapa golongan menengah yang perlu dikembangkan dan kelak bisa menjadi salah satu faktor majunya negara ini, antara lain karena jumlah yang signifikan dan jumlah yang signifikan tersebut bisa digerakkan untuk berinvestasi.

Lantas, bagaimana caranya? Untuk memperkuat negara, tentunya kita perlu memperkuat diri kita terlebih dahulu. Mengatur keuangan adalah hal yang harus kita lakukan untuk memperkuat diri kita. Golongan menengah berada di tengah-tengah, suatu hari ia bisa ke atas (kaya raya), bisa juga ke bawah (jatuh miskin). Untuk menjadi kaya atau miskin, itu berada di tangan kita, kitalah yang menentukan. Mau kaya atau miskin? Kalau mau kaya, kita harus mengatur keuangan kita.

Hal pertama yang perlu kita lakukan dalam mengatur keuangan kita adalah memeriksa kondisi keuangan kita saat ini. Kita harus mengetahui apa saja yang kita punya serta mengetahui berapa penghasilan dan pengeluaran bulanan kita. Setelah itu, kita harus menentukan tujuan finansial kita, apakah itu untuk dana pensiun, dana pendidikan, dana pembelian aset, dan lain sebagainya. Barulah kita kemudian melakukan berbagai cara demi meraih tujuan finansial kita tersebut.

Salah satu cara penting dalam meraih tujuan finasial kita adalah beinvestasi. Ya, berinvestasi, bukan sekedar menabung. Beda? Ligwina menjelaskan secara gamblang pebedaan menabung dan berinvestasi. Pada intinya, dengan menabung, uang kita akan mengalami penyusutan nilai karena terhadang inflasi. Namun, dengan berinvestasi, uang kita akan bekerja untuk kita dan di masa depan akan melampaui nilai inflasi. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan, yang termudah, kita bisa memulai dari reksadana.
Kita juga perlu merubah pola pikir kita yang selama ini menggunakan penghasilan untuk konsumsi terlebih dahulu dan kemudian sisanya ditabung. Seharusnya, setelah mendapat penghasilan, kita harus menyisihkan untuk investasi terlebih dahulu (beserta asuransi dan dan dana darurat), baru sisanya untuk pengeluaran konsumtif.

Itu saja?
Tentu tidak, masih banyak kiat lain yang dibagikan oleh Ligwina dalam bukunya ini untuk kita terapkan dalam kehidupan kita demi menjadi golongan menengah yang kuat, yang kemudian bisa memperkuat negara ini. Beberapa kiat tersebut tidak hanya terfokus pada bagaimana menjadikan kita menjadi lebih kaya, namun juga terdapat ajakan untuk berbagai kepada orang lain, dengan beramal ataupun memberikan ‘kail’ pada mereka yang kurang mampu.

Di akhir bagian buku Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin ini, terdapat 100 langkah rencana aksi keuangan yang bisa kita ikuti dan targetkan kapan kita bisa mencapai langkah demi langkah tersebut. Apa saja 100 langkah untuk tidak miskin itu? Berikut saya salinkan sebagian untuk Anda:

1. Memiliki penghasilan
2. Memisahkan pengeluaran bulanan dengan pengeluaran mingguan
3. Pergi ke ATM seminggu sekali
4. Mengerti cara kerja kartu kredit
5. Utang kartu kredit lunas setiap bulan
6. Membayar pajak dan melaporkan SPT
7. Punya rencana keuangan buatan sendiri
8. Mamu membayar semua tagihan/biaya hidup sendiri
9. Punya dana darurat minimal sekali biaya hidup sebulan
10. Punya fasilitas kesehatan yang cukup (dari kantor atau beli asuransi kesehatan sendiri)
11. Mampu beramal minimal 2,5% dari penghasilan bulanan
12. Memiliki rekening belanja
13. Mampu menyisihkan 10% dari penghasilan bulanan untuk ditabung
14. Mengatur penghasilan tahunan dan pengeluaran tahunan
15. Mampu berlibur tanpa berhutang
16. Mengerti tentang apa reksadana dan fungsinya dalam rencana keuangan
17. Mengerti fungsi asuransi dalam rencana keuangan
18. Punya rencana keuangan komprehensif buatan sendiri atau dibantu perencana keuangan independen.

Loh kok hanya 18?
Kebetulan, dari 100 langkah rencana aksi keuangan ini, saya baru sampai ‘mengamalkan’ hingga tahap ke-18. Untuk sisanya, Anda bisa membacanya sendiri di buku ini ya ^_^.

Tidak menyesal kok kalau Anda membeli buku ini. Pesan yang ingin disampaikan disajikan secara menarik. Tidak sekedar buku merencanakan keuangan, tulisan di dalamnya berasal dari misi ingin Indonesia yang lebih kuat. Ligwina telah memberikan kontribusinya pada negeri melalui buku ini. Nah, kita juga bisa berkontribusi pada negara kita dengan melakukan apa yang ditulisnya di bukunya ini. Memang sih (bagi saya) harga buku setebal 240 halaman ini agak mahal, Rp 72,000.00. Namun sangat besar kemungkinan dari Rp 72,000.00 ini kita kelak bisa mendapatkan uang berlimpah-limpah yang jauh lebih besar. Oh ya? Saya sih percaya.


guest book


MY FACEBOOK

Archive

Internet Sehat

 

© 2009 Powered by Blogger.

rifamulyawan online is powered by Rifa Mulyawan