03 Agustus 2009

Cado-Cado: Humor dan Pesan Moral dari Sang (calon) Dokter


Resensi Buku
Judul : Cado-cado (Catatan Dodol Calon Dokter)
Penulis : Ferdiriva Hamzah
Editor : Raditya Dika, Dewi Fita
Penerbit : Bukuné
Cetakan pertama, Mei 2008
Harga : Rp 22.000,00



“Apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?”
“Dokteeer...”


Percakapan antara seorang dewasa dengan seorang anak tersebut mungkin sudah lazim kita temui, bahkan hingga sampai saat ini. Ya, memang banyak sekali anak-anak Indonesia yang bercita-cita menjadi dokter. Dulu, saya sendiri demikian. Ketika teman ayah atau ibu menanyakan cita-cita saya, saat itu dengan lugas dan imutnya saya menjawab ‘dokter anak’. “Biar uangnya banyak,” begitu alasan saya. Dokter memang pekerjaan yang mulia. Menjadi dokter, berarti membantu banyak orang. Tidak hanya itu, pundi-pundi harta pun terus mengalir deras. Namun sayangnya, bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang dokter. Ada banyak perjuangan dan perjalanan panjang yang harus dilalui seseorang sebelum dapat meraih gelar dokter umum, salah satunya ialah menjadi ko-ass di sebuah rumah sakit/poliklinik.

Buku Cado-cado: Catatan Dodol Seorang Dokter ditulis oleh seorang dokter bernama Ferdiriva Hamzah berdasarkan pengalaman pribadinya saat menjadi ko-ass di rumah sakit sekitar sepuluh tahun yang lalu. Riva -begitu sapaan Ferdiriva- memaparkan, masa-masa menjadi ko-ass adalah masa terindah untuk dikenang dalam melintasi perjalanan menjadi seorang dokter. Itu jugalah yang menjadi salah satu latar belakang alasan Riva menulis buku ini.

Buku ini terdiri dari sembilan bagian, yang dibagi berdasarkan pengalaman Riva menjadi ko-ass ilmu kedokteran berbagai bidang: kedokteran jiwa, forensik, ilmu penyakit dalam, ilmu bedah, THT, ilmu kesehatan anak, neurologi, ilmu kesehatan masyarakat, dan mata. Total, terdapat empat belas cerita yang terbagi-bagi dalam sembilan bagian tersebut. Sebelum memulai ceritanya, Riva tak lupa memberikan sedikit penjelasan mengenai ko-ass:
Ko-ass atau co-ass. Artinya bukan “bersama-sama bokong”, tapi kepanjangan dari ko-asisten atau asisten dokter/dokter spesialis yang praktek di rumah sakit. Ko-ass atau kepaniteraan klinik ini adalah pendidikan lanjutan untuk mahasiswa kedokteran yang ingin mencapai gelar dokter umum.

Cado-cado: Catatan Dodol Seorang Dokter termasuk buku yang bergenre personal literature, yakni buku yang ditulis berdasarkan catatan harian/blog pribadi penulisnya. Untuk Kamu yang sudah bosan dengan buku ‘radityadikasentris’ seperti ini, saya sarankan untuk tidak membacanya, karena Kamu akan berkata, “Yah, lawakan beginian lagi”. Tetapi jika Kamu mencari alternatif bacaan pembunuh penat dikala senggang, antri, atau duduk di kendaraan, bolehlah buku ini menjadi santapanmu. Di bagian awal tulisannya, humor yang disajikan buku ini memang agak garing dan belum sukses membuat saya tertawa. Namun setelah beranjak ke bagian-bagian tengah hingga akhir, kita akan menemui beberapa cerita yang cukup kocak dan menghibur.

Awalnya, saya membeli buku ini karena tidak sengaja menghadiri acara bedah buku bersama penulisnya di Festival Buku Jakarta, Istora Senayan, pada bulan Juni lalu. Beberapa cerita yang disampaikan langsung oleh penulisnya dalam acara tersebut turut menarik perhatian saya. Selain itu nama penulis -Riva- yang kebetulan sama (pengucapannya) dengan nama saya juga menjadi salah satu alasan yang menjadikan saya membeli buku ini. Terdengar tidak penting sih, tetapi bagi saya itu merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Setelah membaca buku ini, wawasan saya sedikit bertambah: saya mengenal istilah-istilah baru dalam bidang kesehatan, seperti skizorfrenia, hiperdens, ablatio retina, hingga chepalgia suspek tumor intra kranial. Tak kalah menyenangkan, saya juga turut sedikit mengetahui cerita seru menjadi seorang anak kedokteran: berhubungan dengan mayat, akrab dengan feses dan air seni, hingga memasukkan kateter foley ke dalam lubang kemaluan laki-laki.

Ferdiriva ternyata tidak hanya berbagi untuk sekedar menghibur pembacanya. Secara tak langsung -dalam beberapa tulisan- ia juga menyelipkan pesan-pesan moral yang cukup menyentuh, seperti dalam cerita berjudul Sesuatu yang Terlupakan. Cerita ini mengisahkan seorang senior ko-ass ‘norak’ bernama Bang Hendra yang selalu menjadi bahan ejekan para juniornya. Diluar ‘kehinaannya’, ternyata Bang Hendra memiliki sesuatu yang terlupakan oleh para dokter, yakni sikap empati. Bang Hendra mengajarkan bahwa pasien juga merupakan seorang manusia yang butuh perhatian untuk menghadapi keadaannya. Hal tersebut sangat berbeda dengan kebanyakan dokter yang tidak peduli dengan curhatan para pasiennya, hanya terburu-buru memberi resep, lantas mempersilahkan mereka keluar ruangan. Namun sayangnya, Bang Hendra ternyata gagal meraih cita-citanya untuk menjadi dokter umum. Kisah yang cukup mengharukan tersebut sekaligus menjadi penutup buku ini.

Buku Personal literature satu ini memang tidak membuat saya terbahak-bahak menggelegar seperti saat membaca diary si bocah tengil atau buku-buku karangan Raditya Dika. Namun setidaknya, Cado-cado: Catatan Dodol Seorang Dokter bisa membawa kita menelusuri serunya menjadi seorang anak kedokteran. Tak hanya itu, cerita-ceritanya juga akan membuat kita cengar-cengir sendiri, ditambah sesekali merenungkan pesan-pesan moral yang ada di dalamnya.

Komentar :

ada 4 komentar ke “Cado-Cado: Humor dan Pesan Moral dari Sang (calon) Dokter”
Anonim mengatakan...
pada hari 

Kalo bukunya Riva yang 'Riva The Explorer' udah baca belom?
kocak juga tuh...

Ikha - FISIP '07

Ki Ageng Pamanjaran mengatakan...
pada hari 

http://romansecuil.blogspot.com
http://tafakurhati.blogspot.com

tila mengatakan...
pada hari 

huak....huak...
thanx bang riva.Kau udah bwt adek yang patah hati sama dokter ini.Bisa kau bwt ngakak...

danpram mengatakan...
pada hari 

i have this book. quite funny, but a little bit exaggerate.. haha.. still entertaining though..

Poskan Komentar


guest book


Archive

Internet Sehat

 

© 2009 Powered by Blogger.

rifamulyawan online is powered by Rifa Mulyawan