*Berikut ini adalah salah satu tulisan gue yang gue pindahin dari blog gue yang lama, yang udah nggak aktif lagi. Gw tulis pada bulan februari 2007, waktu musimnya banjir besar di Jakarta...
Berkaitan dengan banjir yang melanda Jakarta . Yup, hari ini, 2 Februari 2007 hari kedua di bulan februari yang juga jadi hari kedua banjir yang melanda Jakarta.
Siang ini, sekitar jam 1-an gw masih di kost. Berniat pulang ke Tangerang, akhirnya sekitar jam 2 kurang dikit, gw meminta Cece, supir ojek antar-jemput kostan gw , untuk mengantar gw ke halte UI.
Saat dari kostan menuju halte, si Cece bertanya, “mo pulang ?”.
“Iya”, kata gw.
Cece ngomong lagi, “Di pasar minggu macet banget, banjir. Tadi bapak dari pergi jam 8, jam 11 pulang lagi katanya gak jalan-jalan di pasar minggu. Semuanya berenti. Macet”
“Bagus. Ya udahlah gw naek kereta aja dah ce. Anterin ke stasiun (UI) aja yah.”
“iya.” Jawab Cece singkat
Akhirnya singkat cerita dengan terpaksa gw pun membeli tiket kereta ekonomi. Agak males sebenernya. Mengingat keadaan di kereta ekonomi seperti pasar becek. Ada banyak orang jualan, ada banyak barang jualannya, ada banyak orang, pokoknya udah kayak di pasar deh. Lengkap dengan copetnya. Jalan aja susah. Belum lagi ada pengamen yang semakin memperkeruh suasana. O, iya ternyata ada topeng monyet juga. Untung gak ditambahin badut sama ondel-ondel.
Kita lupain aja suasana di kereta. Singkatnya gw sampai di stasiun Kota. Tujuan gw berikutnya ialah naik kereta ekspress (kalau ada), kalo gak ada yah ekonomi lagi juga ga apa-apa. Kalo ada.
Tapi ternyata...
Yupz, bagus, bagus.
Di loket terpampang kertas dengan tulisan tangan berbunyi kereta jurusan Kota-Tangerang & Kota-Rangkasbitung tidak jalan karena banjir. Sip.
Gak kehilangan akal dong gw. Berhubung rumah gw gak begitu jauh dari Kalideres, gw berencana naik Transjakarta alias busway, dari Kota, transit di Harmoni, trus naek bus koridor 3 jurusan Harmoni - Kalideres.
Pas sampai di haltenya...
Bagus, bagus, bagus.
Sekali lagi gw melihat kertas bertuliskan tulisan tangan terpampang di loket. Kali ini berbunyi : bus koridor 2,3,4,5,6,7 tidak beroperasi karena banjir.
Sip dah akh.
Bodo Lakh. Akhirnya gw keluarkan uang 100 ribuan dan sambil ngomel tuh mba di loket bilang, “mas loket yang ini untuk uang pas aja, nih ada bacaannya”. Mbak itu menunjukan tulisan ‘uang pas’ yang ditempel di kaca & letaknya persis di depan mata gw.
“Oo. . maav mbak”, kata gw, merasa bedosa.
Dan itu mbak tetep menerima uang gw dan memberi gw tiket beserta kembalian sebesar Rp 96.500,-. Padahal seharusnya dia mempersilakan gw untuk membayar ke loket lainnya. Tapi dia tidak melakukannya. Dia lebih memilih untuk melanjutkan transaksi dengan gw. Mungkin dia pikir gw ganteng kali.
Gw cukup menikmati perjalanan gw di Transjakarta ini. Apalagi kalo dibandingkan dengan saat gw berada di KRL ekonomi tadi. Akhirnya nyampe lagh gw di terminal Blok M.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya sekitar jam setengah empatan, datanglah bus yang ditunggu-tunggu, Bus Patas AC 138 Jurusan Blok M - Tangerang. Bagai selebritis, itu bus langsung diserbu para penggemarnya, eh penumpangnya. Berebutan masuk.
Dan Alhamdulillah nya, gw bisa dapet tempat duduk untuk dijadikan alas pantat gw. Yang sudah mulai memanas.
Setengah jam pertama, perjalanan tampak biasa. Semuanya biasa. Supirnya mengendarai, kondekturnya nagihin duit, terus teriak-teriak di pintu (“Tangerang-Tangerang!!”. Gitu katanya), para pedagang berjualan. Para penumpang menumpang, eh maksudnya ada yang ngobrol, tidur, ngemil, batuk, nelpon pake TOA, ngupil, dan lain-lain. Pokoknya semuanya berjalan biasa aja, seperti gw naek bis kota biasanya. Sebagian besar sibuk dengan aktivitas masing-masing. Semua juga tau, sesuai dengan tipe penduduknya yang gesselscaft, di bus-bus di Jakarta, emang sudah lazim nggak ngobrol kalo gak kenal. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan itu biasa aja.
Sekitar jam 4 lewat.
Hampir di Kebon Jeruk, Bus-bus dan mobil-mobil terhenti.
Macet.
Abis.
Seorang Ibu yang berdiri di depan bilang ke supir, “Pak lewat kanan aja pak! Jalur bis lama!”
Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya sang ibu memenangkan pertarungan. Sang supir pun ke jalur kanan. Dan benar saja. .
Lancaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrr. Bus melaju kencang di samping jalur yang macet.
“Untung ada si ibu itu” Kata Bapak di sebelah gw.
Dan...
Itu hanya bersifat semu.
Macet juga.
Abis juga.
Setengah jam berlalu. Belom jalan.
Satu jam berlalu. Belom jalan juga.
Satu setengah jam berlalu. Juga belom jalan.
Waktu udah nunjukin jam 6.15an.
Depan, kiri, kanan, belakang, semuanya mobil dan bis.
Ternyata sekitar 300 m di depan sana, banjir parah.
Sehingga.
Mobil, bis, truk, semua. Diem di tempat.
Orang-orang yang tadinya cuek-cuekan, mulai mengobrol.
Mulai tawar-tawaran makanan.
Mulai mencari solusi.
Mulai ribut pengen kencing.
Dsb.
Bapak di sebelah gw menawarkan solusi yang sangat ajaib.
Dia mengajak gw bermalam di hotel yang ada di deket situ.
Dan deket situ ada sebuah hotel.
Sebuah hotel berbintang 4.
Yang. .
Nggak murah.
Nggak kebayang gw berdua aja gitu bersama dia bermalam di hotel. Apa kata orang-orang dan infotainment nanti. “Ikh Rifa bermalem bersama om-om di hotel berbintang!!”. Ikhh. Najis.
Belum lagi harus patungan.
Kemudian setelah menyadari idenya kurang brilian, akhirnya dia nggak cuma ngajak gw aja. Dia juga ngajak beberapa orang laennya. Kira-kira berenam lagh kata dia.
Waduh, dalam bayangan gw, gw dan 5 orang lainnya datang jalan kaki ke hotel itu kemudian bilang ke mas-masnya, “Mas, 1 ruangan single bed aja yah. Tapi kita berenem nih mas. Bisa ditambahin gak kasurnya. Tapi di kamar itu aja. Biar tetep murah. Gapapakan?”
Masih belom ide yang brilian dari si bapak sebelah gw.
Ibu-ibu di depan berteriak, “aduh, pengen kencing!”
Yang lain bukan menertawakan teriakannya itu, tapi menimpalinya dengan kata “sama, saya juga!”
Akhirnya Pak supir merelakan 3 tirai di busnya untuk dijadikan penutup ibu-ibu yang ingin kencing. Mungkin juga tirai tersebut terkencingi. Secara para wanita akan kencing dengan berjongkok. Dan rencananya tirainya akan menutupi bagian badan ke bawah. Karena para wanita itu akan kencing di belakang bus. Yagh, namanya darurat.
“Gimana yah make tirainya? Kayaknya harus ada yang megangin. Ribet” Kata ibu-ibu yang mo kencing.
Bapak di sebelah, gw, sekali lagi, melontarkan ide ajaibnya. “Bu, yang ditutupin, mukanya aja!!”
“Biar gak ribet. Jadi biarin bawahnya gak usah ditutupin. Kan orang gak tau siapa yang kencing, mukanya ditutupin.”
Ide yang ajaib.
Beneran ajaib.
Di luar, banyak orang berjalan kaki. Entah kemana. Mungkin sudah bosan hidup di dalam bis. Dan itu diikuti oleh beberapa orang di bus yang gw tumpangi saat itu.
Satu persatu mereka keluar dari bus.
Ditanya, “mo kemana?”
Dijawab, “gak tau pak, yang penting jalan dulu.”
Logisnya, sekarang belum sampai di kebon jeruk, dan mereka ingin berjalan beribu-ribu kilometer di malam hari sampai menemukan tulisan kebanggaan “Selamat Datang di Kota Tangerang” .
Setengah jam kemudian.
Sekitar jam 7 malem.
Ibu-ibu di depan ada yang teriak, “Bapak-bapak, pada mo jalan gak?”
“Tadi saya dapet info kalo di depan banjir, tapi ada getek”
Banyak yang menanggapi dingin.
Tapi beberapa orang keluar bus.
Dan melihat beberapa anak mudanya ikutan keluar, gw ikutan deh.
Sebenernya gw gak tau juga mo kemana. Ikut-ikutan aja.
Berhubung bapak yang di sebelah gw tadi gak mo ikutan keluar dan jalan kaki (mungkin beliau lebih memilih untuk menunggu siapa tau ada yang mo menerima ajakan dia untuk nginep bareng hotel), maka gw mencari teman baru saat jalan kaki di jalanan di antara mobil-mobil, bus-bus, dan truk-truk yang stuck di tempat.
“Mas mo kemana mas?”, Sapa gw terhadap mas-mas yang sedikit lebih tinggi dari gw, dan gw rasa sedikit lebih tua dari gw. Berkemeja putih, bercelana panjang hitam.
“Perum” Jawab dia.
“Oh, sekarang kita jalan kemana ini ?”
“Gak tau, kita ikutin aja si botak di depan noh”, sambil menunjuk seorang pemuda tampan, atletis, dan gagah berkepala botak keparat.
“O, ya udah, gw ikutin dia juga dah”, kata gw.
“Nama nya siapa”
“Rifa. Mas siapa ?”
“O, Rifa....”, Seakan-akan dia pernah melihat dan mendengar nama gw di layar kaca.
“Gw Dani...”, kata dia.
Saat ngobrol yang gitu-gitu aja.
Tiba-tiba terdengar perselisaihan.
“Lewat sini ! Kata seorang ibu-ibu!”
“Ibu-ibu, pada mo kemana, di depan banjir, gak bisa lewat. Ni gelap.” Tandas seorang supir truk yang sedang nongkrong sambil memegang rokoknya.
Tuh ibu-ibu kekeuh terhadap pendiriannya, dia lebih memilih arah kiri. Bersama pengikutnya.
Sedangkan gw, tetep pada pendirian gw ikutan si mas-mas pemuda tampan, gagah, atletis berkepala botak keparat. Dia ke kanan.
Beberapa penumpang bus gw tadi jadi bingung.
“Kiri apa kanan nih ?”
Sekarang mereka dihadapkan 2 pilihan.
Ikut ibu-ibu ke kiri.
Atau ikut mas-mas pemuda tampan, gagah, atletis berkepala botak keparat ke kanan.
Gw sih jelas ikut si mas-mas aja lagh.
Gw rasa dia udah tau jalan, karena dia dengan yakinnya menapakan kaki.
Meyakinkan.
Sampai suatu ketika...
“De, lo tau jalannya kemana ?” Tanya seorang ibu berlogat Betawi yang membawa anak kecilnya yang kasihan sekali kecil-kecil udah menderita begini.
“Nggak, bu.” Jawab si mas-mas enteng.
Ternyata emang beneran keparat.
“Yah, yakin ajalagh. Insya Allah kita sampe”, kata si mas-mas.
“Amin !”, yang laen nyahutin.
Melewati banyak mobil yang stuck terjebak.
Melewati motor-motor yang mogok.
Malam yang riuh. Suasana kacau.
Orang-orang berlalu lalang entah kemana tujuannya.
Dan rombongan si mas-mas pemuda tampan, gagah, atletis berkepala botak keparat, termasuk gw, berjumlah 10 orang (termasuk 1 orang anak kecil). Sedang mencari tujuan. Entah kemana.
Naik jembatan. “Nah ini kan kalo terus ke Ciledug ! Kita lewat Ciledug !”
Girang.
Menemukan jalan arah Ciledug.
Seperti menenemukan air di padang pasir.
Setelah lama nunggu metro mini yang ke arah Ciledug.
Kok gak ada yang lewat-lewat.
Ada angkot kosong. Si mas-mas pun berinisiatif menyarter angkot itu.
Si supir pun dengan sukarela menolak.
“Mas, saya aja pusing mo pulang lewat mana. Semua arah macet, banjir.”
Sebuah informasi diterima oleh salah seorang rombongan.
“Gw dapet sms, bunyinya begini: Tadi gw nonton Metro TV. Dibilangin banjir terparah di Kota Tangerang itu di Ciledug. Ada yang sampe atap rumah.”
Buset.
Pantes kita gak ngedapetin mobil-mobil yang biasanya ke arah Ciledug.
Apalagi setelah gw membaca sms dari si Nanda “Rifa gmana rmh lw bnjir tak?cs 9 liat diradio tng bnjirnx parah,”
Yakz. Mantep.
Sms si Nanda itu semakin mempertipis harapan gw untuk kembali menemukan rumah gw.
Rombongan kami terdiri dari 10 orang:
1.
Mas-mas tampan, gagah, atletis berkepala botak keparat. Namanya gw gak tau. Biar mudah kita sebut dia mas botak keparat. Eh, terlalu kasar deng. Tapi dia gak keparat loh. Baek banget malah. Ramah & kocak. Kerja d Lea. Kita sebut aja mas ganteng.
2.Mas-mas tampan, gagah, atletis berambut. Kerja di Lea juga (Ini temen sekantornya mas ganteng). Namanya Jo.
3.
Anak Gunadarma, angkatan 2004, berkemeja putih bercelana panjang hitam. Namanya Dani.
4.
Anak UI, angkatan 2006. IP 3 koma sekian. Berbekhel. Keren, imut, manis, tapi najis. Namanya Rifa. Itu gw. Hehehe…
5.
Tante-tante kocak berlogat betawi yang bawa anak. Kita sebut aja Tante betawi.
6.
Anaknya Tante-tante berlogat betawi tadi, usianya sekitar 4 tahun. KitA sebut aja si dede.
7.
Seorang mbak-mbak berjilbab yang pendiam. Kita sebut si mbak.
8.
Seorang pria menyerupai budayawan (beda tipis ma preman), dengan rambut kriwil tak bershampoo. Kita sebut mas budayawan 1.
9. Seorang pria menyerupai budayawan (beda tipis ma preman), dengan rambut kriwil tak bershampoo. Dia ini temennya mas budayawan 1. Kita sebut dia mas budayawan 2.
10. Seorang bapak-bapak yang sudah berumur & berpengalaman. Berambut putih. Kita sebut dia si aki.
Di tengah perjalanan, si aki tampak frustasi. Dan dia meninggalkan kami semua.
Pergi.
Sendiri.
“Pak, mo kemana pak ?” Tanya tante betawi.
“Akh tau ah !!” Ujar si aki cuek setengah kesel sambil pergi.
Bapak itu pun pergi sendiri.
Menembus gelapnya malam.
Menuju arah yang katanya banjir besar.
Dan kini kami tinggal bersembilan.
Kasihan nampaknya ngeliat si dede.
Begitu polosnya.
Gak tau apa-apa…
Di tengah kerumunan dan kemacetan ibukota yang dihantam banjir.
Dan...
Gak Cuma si dede aja yang patut dikasihani.
Gw juga.
Tiba-tiba aja mas budayawan 1 nyetopin mobil pribadi.
“Mas mo kemana mas?”
“Tangerang.” Jawab si mas supir.
Intinya saat itu mas budayawan sedang melakukan negoisasi dengan mas supir.
Dan kabar baik berhembus.
Secercah harapan timbul.
Kita semua naik mobil kijang itu.
Dan...
Pas!
9orang. 1 di depan, 4 ditengah (si dede dipangku ibunya), dan 4 dibelakang.
Alhamdulillah. Bersyukur banget.
Semuanya kayaknya udah diatur gitu.
Coba kalo tadi si aki nggak frustasi dan tidak pergi sendiri. Kalo dia ikut, masih bersepuluh. Mobilnya gak akan muat. Mungkin akan ada 1 orang yang ditinggalkan. Dan gw tidak bisa membayangkan seandainya yang ditinggalin adalah gw.
Untung hal itu nggak terjadi.
Pas banget dah.
Akhirnya mobil kami berjalan kesana-kemari.
Sini macet.
Muter lagi. Lewat sana.
Banjir juga.
Balik arah coba muter.
Macet juga.
Sana-sini-situ macet banjir hingga akhirnya kami menemukan tukang ojek yang berjasa.
”Pak di sana banjir gak ?” Tanya mas supir.Ojek yang berjasa memberitahu, untuk ke Tangerang, satu-satu nya jalan lewat situ. Lewat Bandara. Banjir sedikit dan sebentar aja. Abis itu lancar.
Alhamdulillah.
Secercah harapan sedikit lagi menjadi kenyataan.
Suasana yang sangat mendukung.
Mobil yang nyaman, full AC, dan full musik (Bapak-bapak sih yang nyupir, tapi lagunya: Nidji, Letto, Bunga, dll).
Tampaknya semua sudah diatur.
Dari beratus-ratus mobil lewat, bisa nyetopin 1 dan pas banget ke arah Tangerang.
Dengan jumlah orang yang juga pas dengan kursi yang tersedia.
Terimakasih Ya Allah. . .
Singkatnya, setelah melewati jalan yang sedikit banjir, kami menempuh perjalanan ke Tangerang.
Di mobil, semua yang tadinya tidak saling mengenal.
Jadi kompak.
Bercanda-canda.
Bahkan, mas ganteng, mas Jo, Dani, & gw minum aqua dari mulut ke mulut.
Hilang suasana Jakarta yang cuek & angkuh.
Timbul keakraban dan kehangatan, yang timbul karena penderitaan.
Dan akhirnya gw pun turun di lampu merah Cipondoh, gak jauh dari rumah gw.
Berterimakasih pada semuanya.
Say goodbye pada semuanya.
Turun. Memandangi mobil itu.
Kenangan yang hebat.
Naik angkot. Naik becak. Sampe rumah.
Memandangi rumah gw...
Ya Allah, alhamdulillah sampe rumah.
Memandangi arloji.
Hampir jam 10 malem.
Sekali lagi gw berterimakasih pada Yang Maha Kuasa.
Walau biasanya gw dari Depok ke Tangerang Cuma 1 jam kalo naek kereta ekspres.
2 jam kalo naek kereta ekonomi transit di Kota.
3 jam kalo naek patas AC 81 / Deborah (udah termasuk macet)
Walau kali ini Depok-Tangerang hampir 7 jam.
Yang penting sampe rumah sebelum berganti hari.
Gw gak tau deh gimana nasib gw kalo tadi ikut ibu-ibu ke arah kiri. Menyebrangi banjir gelap-gelapan entah sampai mana.
Gw gak tau deh gimana nasib gw kalo tadi gak ikut turun dari bus. Mungkin masih menunggu air surut sampai keesokan hari.
Gw gak tau deh gimana nasib gw kalo tadi gak ikut turun dari bus. Mungkin masih menunggu air surut sampai keesokan hari.
Hmnmmm...
Tuhan memang sangat baik.
Tiba-tiba, terngiang dalam pikiran gw...
“Gimana yah dengan bapak yang tadi duduk di sebelah gw?”
“Gimana juga dengan si aki?” Kemana dia sekarang?
x)



Komentar :
Poskan Komentar