Memori di Selat Sunda

Waktu kecil dulu, salah satu bagian paling saya tunggu saat mudik ialah ketika naik kapal Ferry. Sebelum naik, saya selalu berharap...



Waktu kecil dulu, salah satu bagian paling saya tunggu saat mudik ialah ketika naik kapal Ferry.

Sebelum naik, saya selalu berharap mendapat kapal yang bagus. Di kapal yang bagus, saya bisa duduk dengan nyaman di ruangan dingin ber-AC, dan kadang juga sambil menonton film di TV yang tersedia.

Butuh waktu dua hingga tiga jam untuk menyeberangi Selat Sunda -dari Merak, Banten ke Bakauheni, Lampung. Jadi kalau kebagian menumpang kapal yang jelek, ya artinya harus tahan selama tiga jam berpanas-panasan di ruang tanpa AC (dan tanpa kipas angin juga), plus bau dari toilet dan saluran pembuangan, yang kadang suka menyebar kemana-mana.

Kalau sudah begitu, kadang Bapak mengajak saya berkeliling. Kami ke luar dari ruang tempat duduk. Dari deck kapal, kami menikmati angin sambil melihat laut, pulau-pulau kecil di sekitar, serta kadang ada juga kapal nelayan. Sayang, dulu belum ada hp berkamera.

Yang masih saya ingat, saat begitu saya selalu berharap, ada kawanan lumba-lumba yang sedang bermain. Ramai-ramai melompat dan balapan di sekitar kapal. Haha, mungkin karena saya kebanyakan dengerin lagunya Bondan Prakoso.

Puas melihat laut, saya diajak Bapak kembali ke tempat duduk tadi. Mama sudah menyiapkan bekal makanan yang dibawa dari rumah. Setelah makan, saya memasang headset ke telinga, memutar Walkman yang isinya kaset lagu favorit saya saat itu.

“Si lumba-lumba (nyam! nyam!)
Bermain bola (nyam! nyam!)
Si lumba-lumba (nyam! nyam!)
Bermain api (nyam! nyam!)
Si lumba-lumba (nyam! nyam!)
Menghitung angka (nyam! nyam!)
Itulah diaa… si lumba-lumba!”

You Might Also Like

0 komentar

Instagram Rifa