Saya dan Copet di Kopaja 19

Kembali saya menjadi sasaran pencopet. Kopaja 19 via Indriany.com Siang ini saya naik Kopaja 19 dari halte Karet ke Stasiun Sudirman...

Kembali saya menjadi sasaran pencopet.

Kopaja 19 via Indriany.com


Siang ini saya naik Kopaja 19 dari halte Karet ke Stasiun Sudirman. Saat mau turun di Stasiun Sudirman, banyak yang mau turun juga, kan. Tiba-tiba saya merasa dikerubuti oleh beberapa orang, serasa Aliando gitu deh.

Kaki saya tidak bisa bergerak, ternyata ada satu orang yang menggenggam pergelangan kaki kanan saya. Erat, erat banget, sampai terasa sakit. Otomatis saya jadi membalik badan ke arah kaki kanan, membungkuk berusaha melepas genggaman tangan orang itu.

Di saat itulah saya rasa teman-teman di belakangnya berusaha menggerogoh saku celana. Ada orang yang menepuk bahu saya juga. Saya merasa seperti didorong-dorong, dipepet, seperti disekap. Di situ saya sadar, orang ngefans gak segitunya. Saya pasti sedang dicopet!

Setelah dengan keras meninju tangan orang yang sedang memegang kaki saya, saya langsung memegang kedua saku celana. Satu tangan saya pergoki sedang mengambil handphone saya di saku kanan. Tapi saya gak tau itu tangan siapa, crowded banget. Dia langsung mengeluarkan tangannya dari saku kanan saya dan handphone saya masih ada. Saya pun teriak, “COPET! COPEEET! COPET YA LO SEMUA!!??”

Hp saya satu lagi di kantong sebelah kiri tidak ada.

“Mana hp gue?!”
Orang-orang yang berdiri mengelilingi saya itu diam, sok-sok tenang.

“Kenapa Dek, kenapa Dek? Itu jatoh kali Dek hapenya, hehe.” katanya sambil tertawa kecil. Saya yakin dia bagian dari pencopetnya. Karena saya terus teriak dan melawan, mereka menjatuhkan hp saya yang telah diambil.

Saya pun mengambil hp saya di dekat kaki salah satu dari mereka.

“Ah, dasar copet lo ya!” Teriak saya, lagi.

Saya pun turun dari Kopaja itu. Sebelum turun, saya teriak lagi di depan mereka. Tadinya sih mau teriak ‘Astagfirullah!’, eh masa yang keluar malah “Anjrit!”.
Huuft.

***


Ironis ya. Saya naik bus umum di kota yang bus-busnya jelek juga seperti Yangon, Bangkok, Ho Chi Minh, atau bahkan naik kereta kelas 3 di daerah perbatasan di Thailand, masih terasa lebih aman dibanding naik kendaraan umum di kota tempat tinggal sendiri. Huh.

Buat temen-temen, waspada selalu yaa. Kalau naik angkutan umum di Jakarta dompet sama handphonenya taro di tas aja, dan tasnya dipegang di depan. Kalau tiba-tiba berasa didorong-dorong dari multiarah, langsung teriak aja, sekenceng-kencengnya.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Makanya kalau di Jakarta, ga berani pake umum. Lebih baik ojek atau taxi online. Tapi penasaran, pengen naik busway, kopaja sama angkot. Pasti babak belur sama keringat. Hhe

    ReplyDelete

Instagram Rifa