Untuk Kita yang Tidak Takut Miskin

Review Buku Judul : Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin Penulis : Ligwina Hananto Penerbit : Literati & QM Publ...

Review Buku
Judul : Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin
Penulis : Ligwina Hananto
Penerbit : Literati & QM Publishing
Tebal : 240 + xii halaman
Cetakan pertama, 2010





Pernah pesimis dengan Indonesia? Kalau Anda pernah berkata, “Gila kali…” “Kapan yaaaa…?” atau sekedar “Hahaha...” ketika seseorang bertanya apakah Indonesia bisa membuat hal yang lebih spektakuler dari yang pernah dilakukan Negara maju, artinya Anda pernah pesimis dengan negara ini. Bukan Cuma Anda kok. Saya dan (mungkin) ratusan juta orang Indonesia lainnya juga setidaknya pernah merasa Indonesia jauh dari bayangan akan menjadi negara kaya raya tanpa hutang, yang para pemimpinnya menjadi tuntunan, yang jauh dari permasalahan lingkungan, yang teknologinya bisa menguasai pasar dunia, yang para atlet serta musisinya menjadi yang terbaik diseluruh dunia, dan tentunya rakyatnya hidup makmur dan selalu bahagia.

Belajar ilmu politik di kampus pernah membuat saya semakin bingung dengan permasalahan negara ini. Semakin dipikirkan, semakin tahu berbagai macam permasalahannya, dan semakin bingung apa yang sebenarnya perlu dibenahi terlebih dahulu, semakin yakin negeri ini tidak bisa diperbaiki lagi dan semakin tidak mau memikirkan negeri ini. Kesimpulannya, semakin saya suka memikirkan masalah negara, maka saya semakin tidak mau memikirkannya.

Hal tersebut menjadi salah satu hal yang membuat saya setelah lulus kuliah tidak ada niatan untuk berkecimpung di dunia politik, selain memang karena nilai saya jelek dan tak layak sepertinya untuk berada di dunia politik. Politik memang berkaitan erat dengan kenegaraan, berbagai macam permasalahan di negara ini toh bersumber dari politik. Ujung-ujungnya politik, begitu kata orang (orang mana?). Ya setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran saya dulu. Sampai pada waktunya, saya menyadari bahwa ternyata tidak melulu harus berkecimpung di poltik (atau lingkarannya) untuk mengubah negeri ini.

Ligwina Hananto, seorang perencana keuangan independen yang turut menyadarkan saya dan dengan jelas serta berani dalam bukunya -yang berjudul Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin- mengungkapkan bahwa negeri ini bisa kuat kalau golongan menengahnya itu kuat. Memangnya siapa itu golongan menengah? Dan sehebat apa mereka sehingga bisa-bisanya dikatakan bisa menjadikan negara ini kuat? Itu pertanyaan yang terlintas di benak saya saat membaca pernyatan Ligwina gersebut.

Sederhananya, Ligwina mengutarakan bahwa golongan menengah adalah golongan yang berdaya, yang memiliki mata pencaharian dan mampu makan tiga kali sehari. Namun golongan ini belum tentu punya uang, yang jelas mereka tidak melarat. Intinya, dibilang kaya raya yang punya uang puluhan miliar bukan, dibilang tidak mampu juga tidak pas, ya ditengah-tengah lah pokoknya. Merasa seperti itu? Kalau ya, selamat! Kita berada di golongan yang sama, golongan yang menurut Ligwina memiliki peran penting untuk memperkuat bangsa ini. Mengapa golongan menengah? Ada banyak alasan yang diungkapkan Ligwina mengapa golongan menengah yang perlu dikembangkan dan kelak bisa menjadi salah satu faktor majunya negara ini, antara lain karena jumlah yang signifikan dan jumlah yang signifikan tersebut bisa digerakkan untuk berinvestasi.

Lantas, bagaimana caranya? Untuk memperkuat negara, tentunya kita perlu memperkuat diri kita terlebih dahulu. Mengatur keuangan adalah hal yang harus kita lakukan untuk memperkuat diri kita. Golongan menengah berada di tengah-tengah, suatu hari ia bisa ke atas (kaya raya), bisa juga ke bawah (jatuh miskin). Untuk menjadi kaya atau miskin, itu berada di tangan kita, kitalah yang menentukan. Mau kaya atau miskin? Kalau mau kaya, kita harus mengatur keuangan kita.

Hal pertama yang perlu kita lakukan dalam mengatur keuangan kita adalah memeriksa kondisi keuangan kita saat ini. Kita harus mengetahui apa saja yang kita punya serta mengetahui berapa penghasilan dan pengeluaran bulanan kita. Setelah itu, kita harus menentukan tujuan finansial kita, apakah itu untuk dana pensiun, dana pendidikan, dana pembelian aset, dan lain sebagainya. Barulah kita kemudian melakukan berbagai cara demi meraih tujuan finansial kita tersebut.

Salah satu cara penting dalam meraih tujuan finasial kita adalah beinvestasi. Ya, berinvestasi, bukan sekedar menabung. Beda? Ligwina menjelaskan secara gamblang pebedaan menabung dan berinvestasi. Pada intinya, dengan menabung, uang kita akan mengalami penyusutan nilai karena terhadang inflasi. Namun, dengan berinvestasi, uang kita akan bekerja untuk kita dan di masa depan akan melampaui nilai inflasi. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan, yang termudah, kita bisa memulai dari reksadana.
Kita juga perlu merubah pola pikir kita yang selama ini menggunakan penghasilan untuk konsumsi terlebih dahulu dan kemudian sisanya ditabung. Seharusnya, setelah mendapat penghasilan, kita harus menyisihkan untuk investasi terlebih dahulu (beserta asuransi dan dan dana darurat), baru sisanya untuk pengeluaran konsumtif.

Itu saja?
Tentu tidak, masih banyak kiat lain yang dibagikan oleh Ligwina dalam bukunya ini untuk kita terapkan dalam kehidupan kita demi menjadi golongan menengah yang kuat, yang kemudian bisa memperkuat negara ini. Beberapa kiat tersebut tidak hanya terfokus pada bagaimana menjadikan kita menjadi lebih kaya, namun juga terdapat ajakan untuk berbagai kepada orang lain, dengan beramal ataupun memberikan ‘kail’ pada mereka yang kurang mampu.

Di akhir bagian buku Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin ini, terdapat 100 langkah rencana aksi keuangan yang bisa kita ikuti dan targetkan kapan kita bisa mencapai langkah demi langkah tersebut. Apa saja 100 langkah untuk tidak miskin itu? Berikut saya salinkan sebagian untuk Anda:

1. Memiliki penghasilan
2. Memisahkan pengeluaran bulanan dengan pengeluaran mingguan
3. Pergi ke ATM seminggu sekali
4. Mengerti cara kerja kartu kredit
5. Utang kartu kredit lunas setiap bulan
6. Membayar pajak dan melaporkan SPT
7. Punya rencana keuangan buatan sendiri
8. Mamu membayar semua tagihan/biaya hidup sendiri
9. Punya dana darurat minimal sekali biaya hidup sebulan
10. Punya fasilitas kesehatan yang cukup (dari kantor atau beli asuransi kesehatan sendiri)
11. Mampu beramal minimal 2,5% dari penghasilan bulanan
12. Memiliki rekening belanja
13. Mampu menyisihkan 10% dari penghasilan bulanan untuk ditabung
14. Mengatur penghasilan tahunan dan pengeluaran tahunan
15. Mampu berlibur tanpa berhutang
16. Mengerti tentang apa reksadana dan fungsinya dalam rencana keuangan
17. Mengerti fungsi asuransi dalam rencana keuangan
18. Punya rencana keuangan komprehensif buatan sendiri atau dibantu perencana keuangan independen.

Loh kok hanya 18?
Kebetulan, dari 100 langkah rencana aksi keuangan ini, saya baru sampai ‘mengamalkan’ hingga tahap ke-18. Untuk sisanya, Anda bisa membacanya sendiri di buku ini ya ^_^.

Tidak menyesal kok kalau Anda membeli buku ini. Pesan yang ingin disampaikan disajikan secara menarik. Tidak sekedar buku merencanakan keuangan, tulisan di dalamnya berasal dari misi ingin Indonesia yang lebih kuat. Ligwina telah memberikan kontribusinya pada negeri melalui buku ini. Nah, kita juga bisa berkontribusi pada negara kita dengan melakukan apa yang ditulisnya di bukunya ini. Memang sih (bagi saya) harga buku setebal 240 halaman ini agak mahal, Rp 72,000.00. Namun sangat besar kemungkinan dari Rp 72,000.00 ini kita kelak bisa mendapatkan uang berlimpah-limpah yang jauh lebih besar. Oh ya? Saya sih percaya.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram Rifa