From : +6281564230xx
03-Feb-2009
09:32
Selamat pagi, saya Rully Gozali dari tim FbPS, mohon untuk cek message-nya di FB..
Untuk konfirmasinya silahkan hubungi saya. Thanks.Salam Indonesia Raya!
Setahu saya, FbPS adalah sebutan untuk Facebook milik Prabowo Subianto, salah seorang tokoh nasional yang saat itu menjadi bakal calon presiden negeri ini. Hmmh, ada apa yah, tiba-tiba saya mendapat message dari tim FbPS? saya menerka-nerka apa isi pesan yang dikirim oleh tim FbPS ke inbox message facebook saya. Dugaan terkuat saya, saya akan diminta menjadi bintang iklan Partai Gerindra untuk memerankan seorang pengangguran yang memasang tampang memelas dan berkata, "Sekarang cari kerja susah, kondisi perekonomian tak menentu. Sampai-sampai, saya sudah tiga hari tidak dugem."
Ternyata dugaan saya salah. Pesan di inbox saya tidak berisi ajakan untuk menjadi bintang di iklan Gerindra terbaru, melainkan sebuah undangan. Ya, sebuah undangan untuk nonton bareng film Red Cliff 2, bersama Pak Prabowo di The Premiere, EX Jakarta, pada malam harinya. Siang hari, saya kembali mendapat SMS yang meminta saya segera mengonfirmasi perihal kehadiran saya di acara tersebut. Sebenarnya saya bingung, akan datang atau tidak ke acara nonton bareng yang baru dimulai pukul setengah sepuluh malam itu. Akhirnya saya membalas SMS dari tim FbPS dengan sebuah pertanyaan yang saat itu saya anggap wajar ditanyakan oleh seorang mahasiswa kere -tapi kece. Sebuah pertanyaan yang kelak saya sadari betapa memalukan dan hinanya: "Gratis gak mas?"

Setelah mendapat kepastian bahwa saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tiket masuk serta akan diantar pulang setelah acara berlangsung, saya memutuskan untuk hadir di acara itu. Berdiri dan berdesak-desakkan di bus kota ditambah macet sialan saat menuju EX cukup membuat saya terlihat lusuh dan kumel. Saat itu mungkin sudah tidak dapat dibedakan lagi mana yang Rifa dan mana yang kernet busnya. Bedanya hanya saya pake kawat gigi, dia pake handuk kecil (Walaupun berbeda, keduanya sama-sama bisa digunakan untuk membersihkan kuku). Sesampainya di The Premiere EX, saya berniat mencuci muka kumel ini terlebih dahulu. Namun seorang kerabat Pak Prabowo -yang belakangan diketahui bernama Pak Boyke- langsung menyambut saya dan berkata, "Wah, Rifa yah? Hayo masuk, Pak Prabowo sudah nunggu kamu". Pak Boyke menarik tangan saya untuk memasuki sebuah kafe di bioskop itu. Saat itu saya dilanda kebingungan sekaligus kepanikan. Bingung, karena saya heran: ngapain Pak Prabowo nunggu saya? Panik, karena saya tidak mungkin akan berhadapan dengan Pak Prabowo dengan wajah kumel-lusuh-kucel-lecek-kusam-imut ini. "Saya mau ke toilet dulu ya, Pak," saya memohon izin pada Pak Boyke dengan maksud mencuci muka terlebih dahulu. "Udah, gak usah, ntar aja..." jawab Pak Boyke sambil terus menggiring saya ke dalam kafe. Bagus, sebentar lagi Pak Prabowo akan bertemu saya yang sedang lusuh ini dan saya tinggal menunggu beliau bertanya, "Sehari-hari kamu ngamen dimana?"

Saya dan Pak Boyke masuk ke dalam kafe. Dan tampak di depan muka saya, seorang yang selama ini cuma saya lihat di TV, koran, dan internet, siapa lagi kalo bukan Prabu Angling Dharma. Enggak deng, siapa lagi kalo bukan Prabowo Subianto. "Ini Pak, Rifa, juara satu nya," demikian pernyataan Pak Boyke saat memperkenalkan saya ke Pak Prabowo. Saat itu saya benar-benar kaget. Saya memang menjadi salah satu pemenang dalam Prabowo Blogging Competition atas tulisan saya yang berjudul MPS: Metode Penelitian Sosial atau Memimpikan Prabowo Subianto?, namun saya belum pernah diberi tahu sebelumnya kalau sayalah juara satunya. Terlebih, katanya, Pak Prabowo sendirilah yang memilih pemenang-pemenangnya. Saat itu saya cuma berharap saya gak salah ngomong yang berpotensi membuat Pak Prabowo menyesal telah memilih saya sebagai juara satunya.
Pak Boyke meninggalkan kami di ruangan. Saya dan Pak Prabowo duduk. Semua waiter kafe tampak melihat ke arah kami. Mungkin menurut mereka, mereka sedang menyaksikan si Brondong dan si Om senang sedang berkencan di kafe. Tapi saya cuek aja. Saya terdiam. Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan sebelumnya: mengenai Undang-undang BHP, pertumbuhan ekonomi dua digit, kemandirian energi, teori lepas landas Rustow (kalau Indonesia beralih ke pertanian lagi, apakah itu berarti kita mundur dari tahap 'lepas landas' kembali ke tahap 'tradisional'? -itu adalah pertanyaan titipan dari seorang teman), sampai masalah pelanggaran HAM. Tapi tiba-tiba otak saya nge-blank. Saya terdiam, speechless, dan takut salah ngomong. Sambil terdiam, yang saya lakukan saat itu ialah menatap Pak Prabowo mulai dari ujung kepala hingga ujung sepatunya. Semuanya terlihat MAHAL. Sebenernya saya ingin memujinya dengan mengatakan, "wah, pakaian Bapak terlihat mahal." Tapi saya takut itu termasuk salah ngomong. Jadi saya memutuskan untuk diam saja.
"Siapa nama kamu? Rifa, ya?" Tanya Pak Prabowo."Iya, pak," Jawab saya.
"Kamu kemana waktu itu turun lapangannya? Saya lupa,"
"Ke Garut, Pak,"
"Oh, iya ke Garut ya. Nah, kamu jadi juara satu karena kamu sampai wawancara petani di lapangan,"
"Oh..." saya kaget. Padahal saya wawancara sama petani di Garut kan bukan karena saya niat banget ikutan lomba ini, tetapi itu untuk mata kuliah MPS saya.
"Orang tua kamu kerja di mana?""Kalau Bapak pensiunan swasta, kalau Ibu di Pengadilan Tinggi Jakarta," jawab saya. Sebenarnya saya juga ingin balas bertanya, "kalau Bapak sendiri kerja dimana?" Tapi nggak jadi. Sekali lagi, takut salah ngomong.
"Kuliah dimana?""UI, Pak,"
"di Depok?"
"Iya, Pak,"
"Jurusan apa?"
"Politik, Pak,"
"Wah, politik ya? Kalau politik, bahasa Inggris kamu harus bagus," kata Pak Prabowo. Lantas saya berpikir: perasaan sih mau jurusan apa juga ya emang harus bagus bahasa Inggrisnya. Haha, kadang-kadang orang besar itu aneh juga, ya.
"Kamu udah jago bahasa Inggrisnya?" Tanyanya lagi.Anjrit. Pertanyaan yang sangat susah saya jawab. Kalo bohong, saya takut ketahuan. Kalau jujur, ntar saya malu sendiri. Akhirnya saya memutuskan mengambil jalan tengah, "masih belajar Pak, hehe," jawab saya, cengegesan.
"Kamu udah pernah nonton di sini sebelumnya?""Belum, Pak," mampus. Ketahuan dah, saya bukan anak gaul.
"Saya juga baru pertama kali nih nonton di sini. Ya, karena ada film bagus aja. Udah pernah nonton Red Cliff yang pertamanya?"
"Belum, pak," sekali lagi. Skak mat. Ketahuan saya bukan anak gaul."Wah, kamu harus nonton tuh yang bagian pertamanya. Biar nanti nyambung nontonnya. Bagus itu filmnya. Apalagi kamu anak politik," saran Pak Prabowo.
"Iya, Pak. Nanti saya akan nonton film yang bagian pertamanya."Dan saudara-saudara sekalian, kita akan segera memasuki bagian paling gak penting dari obrolan bareng Capres:
"Kost-nya dimana?" Tanya Pak Prabowo."di Srengseng Sawah, Pak."
"Wah, lumayan jauh ya. Naik apa kamu ke kampus?"
"Motor, Pak,"
"Oh, bawa motor?"
"Bukan, Pak. Jadi kost-kost-an saya nyediain fasilitas ojek kost-an. Jadi saya dianter jemput pake ojek kost-kostan..."
"Oh, ada ojek kost-annya. Enak ya kost-annya," tanggap Pak Prabowo.Langka sekali kesempatan yang saya dapat ini. Mengobrol akrab di sebuah kafe bersama seorang capres. Tetapi mengapa oh mengapa, sekali-kalinya dapat kesempatan itu, malah ngomongin ojek kost-an. Gak ada bahan obrolan yang lebih penting.
Pak Prabowo memanggil waiter dan meminta saya untuk memesan minuman."Hot Chocolate aja, Mbak," pesan saya.
"Itu aja, makannya nggak? Sandwich?" tawar Pak Prabowo.
"Hmmmh, nggak usah pak, minum aja," jawab saya, jaim tingkat tinggi. Sumpah sebenarnya saya lapar saat itu. Tetapi saya ingat pesan ibu saya: ingat, jaga sikapmu nak, jangan sampai memalukan nama keluarga. Hal tersebut menjadikan saya lebih memilih untuk menahan lapar. Obrolan santai yang langka dengan topik-sangat-ringan-sekali-seperti-ngobrol-bareng-teman-baru-kenal kembali dilanjutkan.
"Maaf Pak, Rifa-nya dipanggil sama Pak Boyke," kata seorang pemuda kepada Pak Prabowo. Wah, sepertinya waktu mengobrol bareng Pak Prabowonya sudah selesai, pikir saya. Sambil mengeluarkan kamera dari dalam tas, saya berkata pada seorang pemuda yang bernama Mas Eko tersebut, "tapi mas, saya foto dulu yah."
"Oh, iya ntar aja, Mas. Soalnya tadi Pak Boyke manggilnya kayanya penting," jawab Mas Eko. Pak Prabowo yang sudah bersiap berfoto bareng saya, eh terbalik, saya yang sudah siap berfoto bareng Pak Prabowo akhirnya harus menunda rencana itu. Saya lantas pamit kepada Pak Prabowo dan keluar dari kafe.
Mas Eko mengantar saya untuk 'menghadap' Pak Boyke.
"Ini Rifanya, Pak," kata Mas Eko. Lantas ia pergi meninggalkan saya dan Pak Boyke.
"Iya, kenapa pak?" tanya saya pada Pak Boyke.
"Oh, nggak, tadi katanya kamu mau ke toilet? Takutnya sudah kebelet,"
GUBRAK.
Film telah dimulai.
"Ini Rifanya, Pak," kata Mas Eko. Lantas ia pergi meninggalkan saya dan Pak Boyke.
"Iya, kenapa pak?" tanya saya pada Pak Boyke.
"Oh, nggak, tadi katanya kamu mau ke toilet? Takutnya sudah kebelet,"
GUBRAK.
Film telah dimulai.
Saya duduk manis, menonton film itu. Red Cliff 2, sebuah film yang jalan ceritanya penuh dengan intrik politik dan peperangan. Tapi saya nggak ngerti dan bingung sendiri: ini film apanya yang bagus? Terus kenapa kayaknya semua orang suka film ini yah. Pasti ada yang salah dengan otak saya. Saat menonton film itu, saya malah memikirkan hal lain: menyesal mengapa tadi tidak cuci muka terlebih dahulu sebelum masuk The Premiere. Gara-gara itu, saya jadi tidak berfoto bareng Pak Prabowo di suasana yang penuh dengan keakraban layaknya ayah dan anak yang sedang makan malam di kafe. Ughh... Namun, bagaimanapun juga, saya sangat bersyukur. Salah satu mimpi saya beberapa bulan sebelumnya -berbincang akrab dengan Pak Prabowo- telah menjadi kenyataan. Saya tersenyum, melanjutkan menonton film di layar lebar yang ada di hadapan saya sambil menenggak hot chocolate. Sesekali menelan french fries.



wah asyik nih, menulisnya mengalir apik...
ngobrol bareng orang terkenal, kesempatan yg jarang di dapat...akhirnya sampai selesai gak jadi photo bareng yah?
Selamat udah menang di "Prabowo Blogging Competition". teruslah berkarya!
wah terimakasih mbak, dibilang menulisnya mengalir apik...
hehe apik, kayak merek jamu, buyung apik...
xp
hikshiks foto barengnya gak jadi mba...
terimakasih ya ucapannya dan semangatnya!
jadi terharu...
x')
wah... aseek dunk kak bisa ketemu prabowo langsung... jadi pengen... hehehe....
Haha, ntar tahun 2014 yah, kalo lombanya ada lagi, ikutan aja... hehe