Saat itu, sekitar pertengahan tahun 2000, usia saya masih 11 tahun. Saya baru saja menyelesaikan pendidikan dasar dan menjadi siswa sebuah SMP di pusat kota. Saya tinggal di sebuah kota, yang tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Tangerang namanya. Sebuah kawasan industri yang juga padat akan penduduk. Di tengah hiruk pikuk kesibukan kota ini pada awal masa milenium, tidak semua warga di dalamnya menjadi lebih 'milenia', termasuk saya. Saat itu, sebutan ‘anak kota yang kampungan’ lumayan pas disandingkan untuk saya.
Tidak perlu menunggu program Internet Goes to School -atau yang lebih dikenal dengan sebutan 'pssttt, Internet mo dateng ke sekolah!'- bagi saya untuk mendengar istilah 'internet'. Saya sendiri sudah mengenal istilah 'internet' sejak duduk di bangku SD, kalau tidak salah sewaktu duduk di kelas 5, namun belum mengetahui apa dan bagaimana rupanya si internet itu. Awalnya, saya pikir internet hanyalah 'sesuatu' yang dimiliki oleh kalangan tertentu saja, dan tidak akan membuat saya rugi jika tidak 'menggunakannya', oleh karena itu saya tak begitu khawatir walau saat itu saya tak mengenal internet. Internet, internet, dan internet: memasuki tahun 2000, gaung internet semakin membahana, seiring gaung bumi memasuki milenium ketiga. Warung-warung internet (warnet) bermunculan di kota saya, menjajakan internet. Namun, saya tidak berani memasuki salah satu dari sekian warnet tersebut karena saya sendiri tidak tahu siapa, bagaimana, dan untuk apa itu internet. Saya berpikir, internet itu pastilah hanya konsumsi untuk orang-orang kaya, dan bukan untuk saya, yang masih menggunakan aplikasi wordstar dan lotus di komputer rumah. Saya takut, tidak kenal, dan tidak berani untuk kenal dengannya, hingga akhirnya seorang teman mengajak saya bermain internet.
Pada masa awal duduk di bangku SMP, saya diajak bermain ke warnet oleh salah seorang teman saya yang, sebutlah, bernama Nanda (bukan nama sebenarnya, nama sebenarnya Iskandarsyah). Kami memasuki sebuah warnet yang tak jauh dari sekolah. Saya melihat banyak komputer di tempat itu, yang tersekat oleh bilik-bilik kayu. Saya dan Nanda masuk ke dalam salah satu bilik tersebut. Setelah duduk, Nanda mulai menyentuh mouse, dan saya hanya duduk terdiam. Saya tidak mengerti apa yang harus saya lakukan saat itu, jadi saya lebih memilih untuk hanya melihat-lihat saja, stay cool, dan stay cute tentunya. Jari-jari Nanda mulai menyentuh keyboard yang ada di hadapannya, ia mengetik sesuatu di sebuah kolom yang belakangan saya ketahui bernama address bar. Saya tak ingat nama alamat situs yang ia ketik, tetapi yang jelas, saya merasa ada yang janggal dengan kata-katanya.
"Nan, gambar apaaan itu? Ih, mereka lagi ngapain? Kok gak pake baju sih? Yang itu kok rame-rame gitu?" tanya saya, polos. "Udah, diem aja. Liat dan nikmatin aja," jawab Nanda. Oh, my God, berontak saya dalam hati. Nanda memperlihatkan pada saya ‘sesuatu’, yang belakangan saya ketahui bernama situs khusus dewasa. Memang sih nikmat, tetapi... apakah ini yang namanya internet? Hal-hal seperti ini yang dilihat di komputer? Saya melihat ke arah Nanda. Matanya merem-melek. Sesekali memajukan kepalanya hingga berjarak 15 senti dari layar monitor. "Biar lebih jelas," katanya.
'Permainan' selesai. Kami pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri: apalagi yang bisa saya peroleh dari internet? Hanya hal-hal seperti tadikah? Saya menghubungi Nanda melalui telepon rumah -zaman saya kelas 1 dulu, anak SMP belum banyak yang memakai handphone untuk SMS-an. "Nanda, emang kita bisa liat apalagi selain 'begituan' di internet?" tanya saya. "Intinya, kalo ada tulisan-tulisan yang depannya 'www' gitu, artinya lo bisa buka di internet. Itu namanya alamat situs, tulis aja di kolom tempat nulis alamatnya, yang di bagian atas itu loh" jawab Nanda. Wah, si Nanda ini modern sekali, pikir saya. Saat saya baru tahu bagaimana cara bermain kelereng, dia sudah bisa menjelaskan saya tentang menggunakan internet. Setelah menutup telepon, lantas saya mencari alamat situs –apapun- yang bisa saya buka di internet. Tak lama setelah itu, saya menemukan alamat situs di sebuah koran dan di kemasan sebuah produk minuman.
Esoknya saya kembali ke warnet, seorang diri. Sesuai apa yang dikatakan Nanda, saya mengetikkan tulisan ‘yang ada www-nya’ di kolom address bar. Www.kompas.com, saya ketik alamat tersebut setelah melihatnya di sebuah koran nasional. Wah, ajaib. Ternyata saya bisa membaca koran di komputer! Saya juga mencoba mengetik alamat situs yang ada dalam sebuah kemasan minuman. Waw, ternyata di internet kita juga bisa menemukan rincian mengenai minuman tersebut. Selanjutnya, saya mencoba-coba klik sana-klik sini. Artikel tentang pengetahuan umum, permainan-permainan, hingga gambar-gambar kartun yang menarik bisa saya temukan di sini: komputer yang ada di hadapan saya. Luar biasa!
Bermain internet lagi dan internet lagi. Ya, saya ketagihan berinternet, hal yang membuat saya belajar dengan sendirinya mengenai internet. Perlahan saya menguasai fasilitas-fasilitas lain –yang belum pernah saya ketahui sebelumnya- di internet, seperti mengirim e-mail dan chatting. Yuhuuu, saya bisa mengobrol dengan orang-orang, menambah teman dan wawasan! Oh iya, ada satu lagi hal yang sangat penting yang saya dapat dari internet: Internet membantu tugas sekolah saya! Aha! Internet menjadi faktor yang besar bagi saya dalam usaha meraih prestasi di kelas saat itu. Peringkat pertama di kelas adalah salah satu hal yang saya raih berkat memanfaatkan internet. Internet juga membuat saya menjadi (merasa) lebih kreatif: saya mulai membuat-buat jadwal pelajaran dan jadwal piket yang keren di kelas. Teman-teman saya mengatakan itu cool, padahal saya cuma menambahkan lembar jadwal itu dengan gambar-gambar menarik dari internet.
Hidup saya menjadi lebih baik begitu mengenal internet. Mengirim surat saya lakukan dengan lebih praktis dan lebih cepat. Mencari informasi dan berita pun demikian. Begitu halnya dengan artikel pengetahuan umum, dan bahkan hingga teman-teman baru, semuanya saya dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat! Semua hanya tinggal klik, dan dalam hitungan detik, saya mendapatkan yang saya inginkan. Kini, semuanya dapat dilakukan dengan praktis dan cepat. Hal tersebut tentulah sangat bermanfaat dan menguntungkan, karena setiap detik begitu berharga.


walaupun banyak yang bilang buruk, tapi biarkanlah saya..
PERTAMAXZ dulu..
:D:D:D
sayangnya sih, di indonesia, internet itu termasuk barang mahal, bahkan untuk keadaan yang sekarang. soalnya harga yang kita bayarkan untuk aksesnya ga sesuai dengan apa yang harusnya bisa kita dapet.
walaupun internet user di indoesia itu peringkat tiga belas sedunia, tapi persentasenya cuma 8 persen populasi. hmm. delapan persen itu berapa kota ya?
jadi, buat kita yang sudah bisa pake internet, manfaatkan aja internet ini untuk membangun diri, dan membangun lingkungan kalau perlu.
:D:D:D
Thank zlood buat komennya...
setuju, setuju...
iya, jauh banget dibandingin ma amerika yang hampir 50% dari populasinya (sok tau), hehe..
iya nih, dalam proses menggunakan internet buat ngebangun diri... semoga aja kedepannya bisa bangun lingkungan gara2 manfaatin internet... x)