11 Januari 2009

Pernah Ngerasa Nggak Berguna?

Nggak ada manusia yang sempurna. Orang juga udah pada hapal sama kata-kata itu. Mungkin sebagian dari mereka juga udah eneg dengernya. Sebagian lagi, berpikir bahwa masih mending kalau dirinya nggak sempurna. Tidak seperti kondisi mereka yang mereka anggap nggak berguna atau nggak berharga.

Jumat, 9 Januari lalu, saat gue siaran Late Night Show di RTC UI FM, topik yang gue angkat adalah "Pernah nggak sih ngerasa nggak berguna (atau nggak berharga)?" Beragam tanggapan datang dari Gen Muda, sebutan untuk pendengar RTC UI FM. Mereka yang mengaku pernah, bilang kalau itu mereka rasain waktu nggak lulus SPMB, diputusin pacar, saat ngebanding-bandingin diri dengan orang lain, nggak punya prestasi, dan lain-lain.

Kemudian gue search di internet, kira-kira, orang-orang ngerasa nggak berguna/berharga saat kapan yah? Jawaban yang gue dapet: sepertinya pada umumnya orang-orang ngerasa dirinya nggak berguna/berharga karena berbagai hal yang berkaitan dengan apresiasi diri, pencapaian, kemampuan, dan sejenisnya.

Gue jadi inget diri gue sendiri. Yap, gue juga pernah ngerasa diri gue nggak berguna/berharga. Itu gue alamin saat-saat gue di bangku SMP dan awal-awal SMA deh kayaknya. Berbagai hal yang bikin gue ngerasa gak berharga itu antara lain:


1. Gue nggak kayak temen gue
Entah mengapa, dulu gue suka ngebanding-bandingin diri gue dengan orang lain. Temen gue kayak gini lah, kayak gitu lah, dan gue... hanya anak cupu yang nggak bisa seperti mereka. Sempet bikin gue jadi anak yang minder.

2. Hanya menjadi anak pinggiran
Waktu SMP, kayaknya yang terlihat oke adalah kalo lo tergabung dalam gank gaul lah, gank popular, atau jadi anak OSIS. Kalo bukan bagian dari mereka, rasanya seperti seorang anak yang ada wujudnya namun tak dianggap, dan selalu kesepian di tengah keramaian. Dan gue bukan bagian dari mereka. Hmmm.. sempet pengen juga sih rasanya menjadi bagian dari mereka. Wajar kali yah, masa-masa pra remaja -dimana eksistensi menjadi hal yang penting. Untungnya saat itu gue punya sahabat-sahabat yang oke yang selalu bersama-sama...

3. Gue kalah lomba
Duh, rasanya sakiiiiit banget saat kalah lomba. Gue alamin waktu SMP kelas 3 saat ikutan lomba cerdas cermat bahasa inggris gitu. Abis itu gak pernah mau ikutan lomba lagi deh... (padahal mah bukannya nggak mau, emang kagak dipercaya ama sekolah atau emang gak bisa...)

4. Gue nggak punya ini nggak punya itu
Yang ini kurang ajar banget nih gue: sempet menyesal, kenapa gue nggak dilahirkan dari keluarga yang kaya raya. Yang bisa beli ini beli itu. Punya ini punya itu. Waktu itu gue selalu menyesali apa yang nggak gue punya ketimbang mensyukuri apa yang gue punya.

5. Gue nggak bisa ini nggak bisa itu
Ini nih yang paling dashyat pengaruhnya bikin gue ngerasa jadi anak yang nggak berharga. Gue nggak bisa mainin alat musik apapun, gue nggak bisa nyanyi, gue nggak bisa olahraga, gue nggak bisa apa-apa deh pokonya! Gue nggak punya keterampilan apa-apa yang bisa gue tunjukkin dan banggain, apalagi 'menghasilkan' buat gue. Saat itu gue hanya bisa menyesali kenaappppaaaaaaa gue seperti ini!!??!! Huh!! Orang-orang banyak yang memiliki banyak keterampilan sekaligus, sedangkan gue?? Masa satu aja gak ada yang gue bisa!! Dunia tidak adil! Itu yang gue rasain saat itu.

6. Gue buta warna
Jangan kira pandangan gue kayak tivi jaman dulu -item putih gitu. Nggak, bukan kayak gitu. Cuma buta warna merah-hijau aja. Kira-kira nggak bisa ngebedain merah sama ijo sama coklat (kata nyokap waktu SD gue pernah pake baju atasan putih, bawahannya celana pramuka yang warnanya coklat. hehe...), terus susah juga ngebedain biru sama ungu, kuning sama ijo muda, dan lain-lain deh. Nggak parah sih efeknya buat kesehatan, tapi tetep aja buta warna kan nggak bisa disembuhin. Dan tetep aja... Hahaha, sempet bikin hidup gue ancur nih. Mengaburkan segala impian gue untuk menjadi seorang dokter atau ilmuwan, cita-cita gue waktu SMP. Dulu, waktu SD-SMP, gue adalah seorang pembaca setia majalah Orbit, demen ma hal-hal berbau biologi dan teknologi. Gue suka bikin roket-roketan, meneliti roti yang berjamur, dan lain sebagainya. Tapi setelah gue tau buta warna, dan tau kalo penderita buta warna gak bakal boleh masuk kedokteran, IT, biologi, dan sejenisnya, pupuslah harapan gue. Sempet nangis dan meratapi berhari-hari waktu itu. Kenapa ini semua mesti terjadi sama gue???!!!

Hal-hal di atas hanya sebagain penyebab gue sempet ngerasa nggak berguna/berharga aja hidup di dunia ini. Tapi ternyata, kalao disesalin terus, lama-lama capek sendiri. Hehe... Gue menjadi termotivasi ketika gue baca buku fenomenal The Sevent Habits yang buat teens itu loh. Terlebih waktu gue baca kutipan dari Hellen Keller, seorang tuna netra sekaligus tuna rungu yang meraih berbagai pencapaian dalam hidupnya. Ia bilang, "aku lebih memilih mensyukuri apa yang ku punya dengan memfokukannya ketimbang menyesali apa yang tidak kumiliki."
Jleb. Nancep banget tuh buat gue saat itu.

Gue... selama ini lebih menyesali kenapa sih nggak punya ini nggak punya itu, kenapa nggak bisa ini nggak bisa itu, kenapa kayak gini dan bukannya kayak gitu, dan lain sebagainya. Intinya perhatian gue, fokus gue, malah ke hal-hal yang nggak gue bisa/punya, bukan sebaliknya. Kenapa gue nggak mensyukuri apa aja yang gue udah punya/bisa, dan fokus ke hal-hal itu. Mulai saat itulah, secara pelan-pelan, gue mulai berusaha untuk berubah. Sekarang juga masih dalam proses sih.

Emang bener nggak ada orang yang sempurna di dunia ini. Semua orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Berarti, walaupun kita punya 1000 kekurangan, tapi pasti ada 1 kelebihan dalam diri kita. Dan kenapa kita nggak lebih memilih memfokuskan pada 1 kelebihan kita itu ketimbang menyesali 1000 kekurangan yang ada.

Walaupun masih belum sepenuhnya, tapi sekarang gue sedang berusaha menjalani hidup dengan mensyukuri apa yang gue punya tanpa menyesali apa yang nggak gue punya...
^_^

Komentar :

ada 0 komentar ke “Pernah Ngerasa Nggak Berguna?”

Poskan Komentar


guest book


MY FACEBOOK

Archive

Internet Sehat

 

© 2009 Powered by Blogger.

rifamulyawan online is powered by Rifa Mulyawan