*Berikut ini adalah salah satu tulisan gue yang gue pindahin dari blog gue yang lama, yang udah nggak aktif lagi. Gw tulis pada bulan Desember 2007.
Jum’at 14 Desember 2007 lalu, gw membaca sebuah artikel di Koran Tempo yang membuat gw tercengang. Artikel tersebut berjudul “Indosiar Memimpin Lagi”. Dari membaca judulnya saja gw sampai ingin memuntahkan kembali makanan-makanan yang baru saja gw lahap. Namun, judul tersebut juga membuat gw tertarik untuk menelaah lebih lanjut artikel ini...
Ooooh my God.....
Benarkah?
Sungguh?
Tidak ada permainan atau kecurangan lain dibalik semua ini?
Valid kah?
Mencerminkan keadaan yang sesungguhnya kah...?
Kalo iya...
Gila ya, sebuah stasiun televisi yang dulu bagus tapi kini sampah menjadi televisi No. 1 di Indonesia saat ini...
Duh, bahkan acara FTV nya yang benar-benar sampah itu menjadi faktor memimpin kembalinya Indosiar di dunia pertelevisian Indonesia.
Mengapa bisa? Kenapaaaa?!?? *nggak rela banget nih*
Hmmhh...
Tapi kalo dipikir-pikir memang ada sebuah kewajaran juga mengapa Indosiar bisa menempati posisi terdepan bagi pemirsa Indonesia (jika memang survey yang dilakukan oleh AGB Nielsen ini valid).
Logikanya adalah...
Sebagian besar masyarakat Indonesia, yakni lebih dari 70%, merupakan masyarakat yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Dan acara-acara yang disuguhkan oleh Indosiar, terutama FTV sampahnya itu, memang ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah, dan mereka menyukainya. Oleh sebab itu lah Indosiar mendapat peringkat/rating yang tinggi di mata masyarakat Indonesia, yang sebagian besar masih berada di bawah garis kemiskinan.
Tapi, baikkah apa yang telah dilakukan oleh televisi swasta itu?
Menayangkan tayangan yang kurang atau bahkan tidak berkualitas demi mendapat rating tinggi.
Tidak peduli bahwa ‘naga-naga’ dan ‘manusia ular berkepala manusia’ yang mereka tayangkan bisa membodohi masyarakat Indonesia, yang penting ditonton oleh banyak orang.
Dan baik pula kah apa yang telah dilakukan oleh lembaga survey itu?
Memberikan rating tinggi bagi program televisi berdasarkan kuantitas penonton saja, tanpa mempedulikan kualitas isi program.
Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin menyebabkan semakin besarnya peran televisi dalam menghambat kemajuan bangsa...
JAKARTA – Stastiun televisi Indosiar kembali memimpin rating televisi di Indonesia bedasarkan data terbaru AGB Nielsen. “Program-program baru Indosiar menaikkan lagi rating kami, misalnya Mamamia, Stardut, dan Sinetron FTV,” Kata Pejabat Humas Indosiar, Gufron Sakaril, dalam siaran persnya Rabu lalu. Riset oleh AGB Nielsen digelar di 10 kota besar: Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Medan, Palembang, Denpasar, Banjarmasin, dan Makassar. Peringkat pangsa pasar Indosiar selanjutnya diikuti oleh SCTV, RCTI, Trans TV, dan TPI.
(Koran Tempo, Jumat, 14 Desember 2007)
Ooooh my God.....
Benarkah?
Sungguh?
Tidak ada permainan atau kecurangan lain dibalik semua ini?
Valid kah?
Mencerminkan keadaan yang sesungguhnya kah...?
Kalo iya...
Gila ya, sebuah stasiun televisi yang dulu bagus tapi kini sampah menjadi televisi No. 1 di Indonesia saat ini...
Duh, bahkan acara FTV nya yang benar-benar sampah itu menjadi faktor memimpin kembalinya Indosiar di dunia pertelevisian Indonesia.
Mengapa bisa? Kenapaaaa?!?? *nggak rela banget nih*
Hmmhh...
Tapi kalo dipikir-pikir memang ada sebuah kewajaran juga mengapa Indosiar bisa menempati posisi terdepan bagi pemirsa Indonesia (jika memang survey yang dilakukan oleh AGB Nielsen ini valid).
Logikanya adalah...
Sebagian besar masyarakat Indonesia, yakni lebih dari 70%, merupakan masyarakat yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Dan acara-acara yang disuguhkan oleh Indosiar, terutama FTV sampahnya itu, memang ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah, dan mereka menyukainya. Oleh sebab itu lah Indosiar mendapat peringkat/rating yang tinggi di mata masyarakat Indonesia, yang sebagian besar masih berada di bawah garis kemiskinan.
Tapi, baikkah apa yang telah dilakukan oleh televisi swasta itu?
Menayangkan tayangan yang kurang atau bahkan tidak berkualitas demi mendapat rating tinggi.
Tidak peduli bahwa ‘naga-naga’ dan ‘manusia ular berkepala manusia’ yang mereka tayangkan bisa membodohi masyarakat Indonesia, yang penting ditonton oleh banyak orang.
Dan baik pula kah apa yang telah dilakukan oleh lembaga survey itu?
Memberikan rating tinggi bagi program televisi berdasarkan kuantitas penonton saja, tanpa mempedulikan kualitas isi program.
Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin menyebabkan semakin besarnya peran televisi dalam menghambat kemajuan bangsa...



Komentar :
Poskan Komentar